Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Imbal Hasil Treasury Melonjak,Dolar AS Ikut Menguat

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,32 persen menjadi 92,5126 pada akhir perdagangan Selasa (7/9), menyusul kenaikan 0,2 persen di sesi sebelumnya.
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat terus menguat hingga akhir perdagangan Selasa (7/9/2021), menyusul kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,32 persen menjadi 92,5126 pada akhir perdagangan Selasa (7/9), menyusul kenaikan 0,2 persen di sesi sebelumnya.

Pada Jumat (3/9), greenback jatuh ke level terendah sejak awal Agustus setelah laporan tenaga kerja AS yang mengecewakan. Hal ini mendorong para analis untuk meningkatkan taruhan bahwa Federal Reserve tidak akan mengurangi stimulusnya dalam beberapa bulan mendatang.

kepala analis valas Scotiabank Shaun Osborne mengatakan dolar AS terlihat membentuk basis pergerakan dan terkonsolidasi dalam jangka penden setelah aksi jual pekan lalu.

"Federal Reserve menurut kami masih cenderung bergerak menuju tapering pada akhir tahun ini, ekonomi AS kemungkinan akan berkinerja relatif kuat, jadi pandangan kami adalah penurunan dolar kecil, pelemahan dolar kecil mungkin merupakan peluang beli," kata Osborne, Selasa (7/9/2021).

Data pada Jumat (3/9) menunjukkan taruhan net long spekulan pada mata uang AS tumbuh dalam minggu terakhir, dengan nilai posisi net long dolar pada US$10,98 miliar untuk pekan yang berakhir 31 Agustus, posisi long terbesar sejak Maret 2020.

Dolar juga diuntungkan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena pemerintah AS menjual utang baru minggu ini, termasuk surat utang tenor tiga tahun senilai US$58 miliar, obligasi 10 tahun senilai US$38 miliar dan oblgasi 30 tahun sebesar US$24 miliar.

“Peningkatan imbal hasil telah membantu indeks dolar untuk menutup kerugian pasca-NFP (non-farm payrolls) dan beberapa penurunan kemudian," kata analis Brown Brothers Harriman dalam sebuah catatan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang berada di sekitar 1,299 perseb sebelum rilis data pekerjaan Jumat (3/9), sekarang berada di 1,373 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper