Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Tertunduk Melemah

Nilai tukar rupiah ditutup turun 0,14 persen menjadi Rp14.382 per dolar AS pada akhir perdagangan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 10 Agustus 2021  |  16:23 WIB
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang rupiah ditutup terdepresiasi bersama mayoritas mata uang Asia Pasifik hari ini.

Mengutip Bloomberg pada Selasa (10/8/2021), rupiah ditutup turun 0,14 persen menjadi Rp14.382 per dolar AS pada akhir perdagangan.

Beberapa mata uang utama di kawasan Asia Pasifik lain yang juga melemah a.l. yen Jepang turun 0,15 persen, dolar Singapuran turun 0,10 persen, dan won Korea Selatan turun 0,47 persen.

Sementara itu, yuan China naik 0,07 persen dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.

Pada saat bersamaan, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia menguat 0,09 persen menjadi 93.030.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan dolar AS disokong oleh rilis data Pembukaan Pekerjaan bulanan dan Survei Perputaran Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS pada Senin (9/8/2021).

Adapun, terpantau lowongan pekerjaan di Negeri Paman Sam meningkat 590.000 ke rekor tertinggi 10.100.000 pada hari terakhir Juni 2021.

“Ini mengikuti dari laporan pekerjaan resmi AS hari Jumat, di mana nonfarm payrolls naik 943.000 pada Juli, lebih dari yang diharapkan, sementara angka untuk Mei dan Juni juga direvisi naik,” tulis Ibrahim dalam riset harian, Selasa (10/8/2021).

Ibrahim menjelaskan kekuatan pasar tenaga kerja di AS mendorong pasar untuk menilai kembali waktu Federal Reserve mulai mengendalikan program pembelian aset senilai U$120 miliar. Nilai stimulus itu diperkirakan mulai menurun tahun ini dengan suku bunga yang lebih tinggi menyusul segera setelah 2022.

Risiko peristiwa besar berikutnya untuk pasar valuta asing disebut berasal dari rilis data inflasi konsumen AS pada Rabu (11/8/2021).

Dari dalam negeri, perpanjangan PPKM Level 4 hingga 16 Agustus 2021 sudah lebih diperkirakan pasar.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2021 pun sejauh ini tidak banyak direspons pasar karena angka tersebut terkesan rapuh dan semu.

“Pertumbuhan saat ini memang cukup baik namun yang perlu digaris bawahi adalah pelonggaran saat itu yang membuat kasus Covid-19 melonjak tajam,” tulis Ibrahim.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah pada perdagangan berikutnya pada rentang Rp14.380 - Rp14.430.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top