Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IFC Resmi Jadi Pemegang Saham ASSA, Gelontorkan Rp451 Miliar

Investasi IFC di ASSA selaras dengan prioritas strategisnya di Indonesia dan merupakan contoh bagaimana sektor swasta dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan logistik dan konektivitas dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 28 Juli 2021  |  12:57 WIB
Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA Rent) Projo Sunarjanto (tengah) didampingi Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk Jani Candra (kiri) berbincang dengan Chief Operation Officer (COO) Astra Isuzu Yohanes Pratama saat melihat layanan Bengkel Isuzu Berjalan (BIB) di Cakung, Jakarta Timur, Rabu (5/5 - 2021). ASSA
Presiden Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA Rent) Projo Sunarjanto (tengah) didampingi Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk Jani Candra (kiri) berbincang dengan Chief Operation Officer (COO) Astra Isuzu Yohanes Pratama saat melihat layanan Bengkel Isuzu Berjalan (BIB) di Cakung, Jakarta Timur, Rabu (5/5 - 2021). ASSA

Bisnis.com, JAKARTA - Anggota grup Bank Dunia, International Finance Corporation (IFC) resmi menjadi investor emiten logistik dan transportasi PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) dengan menggelontorkan dana US$31 juta atau sekitar Rp451 miliar.

Presiden Direktur Adi Sarana Armada Prodjo Sunarjanto mengungkapkan, pandemi Covid-19 mendorong pertumbuhan bisnis di sektor logistik seiring dengan penguatan peran ekonomi digital. ASSA menjadi salah satu penyedia jasa transportasi dan logistik memanfaatkan momentum tersebut untuk semakin mengembangkan bisnis layanan pengiriman barangnya.

Berangkat dari tujuan strategis IFC di Indonesia yaitu meningkatkan pertumbuhan sektor logistik dan konektivitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru, IFC siap menginvestasikan hingga Rp451 miliar (US$31 juta) pada ASSA.

“Kami menghargai kepercayaan dan kemitraan IFC, anggota Grup Bank Dunia khususnya di masa-masa krusial seperti ini. Kami sangat menyambut IFC untuk menjadi pemegang saham kami setelah konversi daripada obligasi konversi,” kata Prodjo, Rabu (28/7/2021).

Selain mengembangkan bisnis inti pada bidang sewa kendaraan kantor, ASSA juga akan memperluas layanan logistik ekspres PT Tri Adi Bersama yang dikenal sebagai Anteraja, dan memperluas jejak logistik e-commerce di Indonesia.

Perluasan jaringan layanan Anteraja tentunya akan memberikan untung bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM), penunjang pekerjaan utama di Indonesia, serta jutaan pengusaha wanita yang mengandalkan pasar e-commerce yang berkembang pesat sebagai sumber utama perdagangan dan pendapatan.

Anteraja, penyedia logistik ekspres yang berbasis teknologi pertama di Indonesia, mempekerjakan lebih dari 15.000 kurir dan mengirimkan lebih dari 700.000 pesanan paket per hari.

Anteraja juga berafiliasi dengan salah satu platform e- commerce terbesar di Indonesia dan salah satu perusahaan pengiriman ekspres terbesar dan berbasis teknologi di Cina.

“Dukungan ini tentunya akan membantu ASSA untuk terus membangunbisnis yang berkelanjutan di semua lini bisnis dan meningkatkan kinerja perusahaan kami,” lanjut Prodjo.

Investasi IFC dilakukan melalui penerbitan obligasi konversi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aksi ini merupakan salah satu yang pertama sejak pembaruan peraturan pada 2019 yang baru-baru ini diberlakukan untuk meningkatkan hak-hak pemegang saham minoritas, menarik perhatian investor internasional dan memperdalam pasar modal di Indonesia.

Wakil Presiden IFC Asia dan Pasifik Alfonso Garcia Mora menerangkan, investasi IFC di ASSA selaras dengan prioritas strategisnya di Indonesia dan merupakan contoh bagaimana sektor swasta dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan logistik dan konektivitas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Investasi penting ini akan membuka akses ke layanan barang dan jasa yang tentunya akan menguntungkan jutaan orang yang tinggal di luar kota-kota besar di Indonesia, termasuk mereka yang hidup di daerah berpenghasilan lebih rendah yang seringkali harus membayar dengan harga yang lebih tinggi akibat kendala logistik dan biaya transportasi,” jelasnya.

Digitalisasi massal dan penetrasi internet mendorong perkembangan pasar e-commerce Indonesia, yang saat ini menyumbang gross merchandise value (GMV) sebesar US$12 miliar per tahun. Nilai tersebut diproyeksikan akan tumbuh menjadi US$30 miliar per tahun pada 2025.

Kompetisi dan inisiatif akses digital di antara e- platform perdagangan juga telah membuka pintu bagi jutaan pengusaha wanita yang mencari jalan yang layak untuk bisnis rumahan.

Pertumbuhan penjualan online di 24 dari 34 provinsi di Indonesia kini melampaui Jakarta, meningkatkan akses barang dan jasa bagi masyarakat Indonesia di seluruh nusantara dan mempercepat pengembangan UKM.

Pertumbuhan di daerah tersebut juga menunjukkan e-commerce dapat sekaligus membantu menyebarkan kemakmuran. Namun, kemajuan e-commerce dapat terhambat karena permintaan akan layanan logistik melebihi kapasitas bisnis logistik yang ada.

"Dengan dukungan dana ini ASSA akan meningkatkan cakupan layanan dan jejak teknologi Anteraja, kemitraan ASSA dengan IFC akan membantu mempercepat pengembangan ekosistem Anteraja dengan solusi logistik berkualitas tinggi dan hemat biaya serta mengatasi kesenjangan penyedia jasa logistik ekspres di pasar," urai Prodjo.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ifc adi sarana armada anteraja
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top