Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dibayangi Sentimen Tapering, Pasar SUN RI Diprediksi Tetap Kondusif

Prospek pasar SUN Indonesia masih akan dibayangi oleh ketidakpastian arah pemulihan ekonomi AS.
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia/Antara-Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia diprediksi bergerak positif pada semester II/2021 meski dibayangi oleh sejumlah katalis negatif dari global.

VP Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan kondisi pasar SUN domestik sepanjang semester I/2021 cenderung fluktuatif. Hal tersebut terlihat dari pergerakan imbal hasil (yield) SUN yang melemah.

Ia memaparkan pergerakan yield SBN cenderung meningkat, terutama pada Februari dan Maret. Hal tersebut disebabkan oleh adanya peningkatan ekspektasi inflasi di AS sejalan dengan perbaikan indikator perekonomian di AS.

“Indikasi ini kemudian mendorong kenaikan yield US Treasury atau obligasi AS. Akibatnya, yield SUN Indonesia cenderung melemah,” jelasnya saat dihubungi pada Minggu (4/7/2021).

Josua mengatakan pada Maret, yield SBN 10 tahun sempat menyentuh 6,79 persen sebelum kembali turun pada April dan Mei.

Sementara itu, pada Juni, tren SBN 10 tahun kembali mengalami peningkatan akibat sinyal hawkish dari The Fed. Bank sentral AS tersebut memproyeksikan bahwa tapering akan dimulai pada 2022.

Ke depan, Josua mengatakan prospek pasar SUN Indonesia masih akan dibayangi oleh ketidakpastian arah pemulihan ekonomi AS. Hal tersebut juga ditambah dengan potensi percepatan langkah-langkah hawkish dari The Fed.

“Pada semester II/2021, The Fed masih mungkin mempercepat langkah-langkah seperti pengurangan pembelian obligasi yang akan berdampak pada pelemahan pasar obligasi Indonesia,” jelasnya.

Kendati demikian, Josua mengatakan sentimen dari domestik terbilang positif meski dibayangi dengan pemberlakuan PPKM Darurat. Ia menjelaskan ekspektasi pasar terhadap pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih cukup baik.

Proyeksi positif tersebut, lanjut Josua, akan berdampak pada pasar SUN yang lebih kondusif dan mendorong lebih banyak investor asing masuk ke Indonesia.

“Dampaknya juga akan terlihat ke imbal hasil SUN. Kami perkirakan yield SUN hingga akhir tahun akan bergerak turun ke kisaran 6,3 persen – 6,5 persen,” pungkasnya.

Data dari laman World Government Bonds mencatat tingkat imbal hasil SUN Indonesia seri acuan 10 tahun berada di kisaran 6,686 persen. Dalam sebulan terakhir, pergerakan yield SUN Indonesia terpantau melemah 18 basis poin.

Sementara itu, dalam 6 bulan terakhir, yield SUN Indonesia terpantau telah melemah 68,7 basis poin setelah sempat berada di kisaran 5,996 persen pada awal Januari 2021 lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper