Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yield SUN RI di atas Level Wajar, Prospek Reksa Dana Pendapatan Masih Cerah

Berdasarkan data Infovesta Utama, reksa dana pendapatan tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang 21 Mei - 28 Mei 2021, yakni 0,09 persen.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 Juni 2021  |  21:52 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Potensi penguatan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) Indonesia sepanjang tahun ini menjadi salah satu katalis utama bagi reksa dana pendapatan tetap.

Berdasarkan data Infovesta Utama, reksa dana pendapatan tetap mencatatkan kinerja positif sepanjang 21 Mei - 28 Mei 2021, yakni 0,09 persen. Hal ini terjadi menyusul kenaikan terbatas pada obligasi pemerintah sebesar 0,28 persen dan obligasi korporasi sebesar 0,11 persen.

Meski demikian, reksa dana pendapatan tetap masih menunjukkan performa negatif sepanjang 2021. Secara year to date (ytd) reksa dana pendapatan tetap membukukan kinerja -0,53 persen.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan pelemahan kinerja reksa dana pendapatan tetap mulai terjadi pada awal tahun ini. Padahal, pada 2020, instrumen ini sempat menjadi primadona seiring dengan penurunan suku bunga global.

“Imbal hasil US Treasury juga terus menurun di masa pandemi karena diburu oleh para investor yang mencari aman. Hal ini juga memicu kenaikan harga obligasi,” katanya saat dihubungi pada Minggu (6/6/2021).

Kendati demikian, Wawan mengatakan pada awal tahun ini investor mulai berpindah ke aset-aset yang lebih berisiko seperti saham. Hal ini seiring dengan derasnya gelontoran stimulus dari negara-negara, terutama AS, yang memicu sentimen risk on pada para investor.

Derasnya paket stimulus tersebut juga berimbas ke pasar obligasi Indonesia. Wawan menerangkan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) seri acuan 10 tahun sempat naik hingga 7 persen meskipun saat ini sudah mulai menguat ke kisaran 6,4 persen.

Selain itu, penurunan performa reksa dana pendapatan tetap juga dipicu oleh data ekonomi Indonesia yang negatif. Rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2021 yang berada diluar harapan direspons negatif oleh para investor.

Meski demikian, Wawan menilai prospek pasar reksa dana pendapatan tetap masih positif sepanjang tahun ini. Menurutnya, imbal hasil SUN Indonesia saat ini belum menunjukkan level yang wajar.

“Seharusnya imbal hasil wajar SUN 10 tahun Indonesia dibawah 6 persen. Dengan kondisi seperti saat ini, prospek penguatan imbal hasil dan harga SUN masih sangat bagus yang akan berdampak positif bagi reksa dana pendapatan tetap,” jelasnya.

Terkait penguatan harga SUN, dia mengatakan hal ini akan turut didukung oleh prospek pemulihan ekonomi Indonesia. Ia memaparkan tingkat inflasi Indonesia yang masih sangat rendah membuka peluang kembali terjadinya penurunan suku bunga acuan.

Hal tersebut diyakini akan terjadi mengingat target pertumbuhan ekonomi dari pemerintah Indonesia yang sangat optimistis. Guna mencapai target tersebut, lanjut Wawan, pemerintah akan berupaya menggerakkan seluruh sektor perekonomian yang ada.

“Upaya ini harus didukung dengan penurunan suku bunga acuan. Sampai akhir tahun nanti, saya masih yakin yield reksa dana pendapatan tetap dapat berada di kisaran 6 persen hingga 7 persen,” jelasnya.

Kinerja Reksa Dana ytd Hingga 28 Mei 2021

NoIndeks Reksa DanaKinerja Ytd s/d 28 Mei 2021
1Indeks Reksa Dana Saham-6,26%
2Indeks Reksa Dana Campuran-1,84%
3Indeks Reksa Dana Pendapatan tetap-0,53%
4Indeks Reksa Dana Pasar Uang1,40%


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi reksadana investasi reksa dana
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top