Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Tembaga Uji Level US$10.000, Reli Bisa Berlanjut?

Harga komoditas yang dijuluki sebagai kompas perekonomian global ini telah menguat sebesar 28,12 persen pada LME.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 Mei 2021  |  15:53 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga kembali menembus US$10.000 per ton seiring dengan pembukaan kembali kegiatan industri pada sejumlah negara utama memicu reli pada harga mayoritas komoditas

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (6/5/2021), harga tembaga pada London Metal Exchange (LME) sempat menguat hingga ke level US$10.040 per ton sebelum diperdagangkan pada level US$9.949,50 per ton.

Harga tembaga mencatatkan rekor tertingginya pada februari 2011 lalu di angka US$10.190 per ton. Adapun, secara year to date (ytd), harga komoditas yang dijuluki sebagai kompas perekonomian global ini telah menguat sebesar 28,12 persen pada LME.

Komoditas ini sempat kembali menguat setelah pernyataan Menteri Keuangan AS, Janet Yellen terkait kemungkinan terjadinya peningkatan suku bunga acuan. Yellen menyatakan, dirinya tidak melihat adanya kemungkinan peningkatan suku bunga acuan untuk menghambat laju inflasi akibat paket stimulus.

Meski demikian, penguatan harga tembaga saat ini tersendat menyusul sikap investor yang tengah mempertimbangkan prospek permintaan China dan lonjakan kasus virus corona di dunia.

Analis Commerzbank AG Daniel Briesemann menyebutkan, saat ini pasar tengah dilanda euforia akibat reli harga. Meski demikian, dirinya belum dapat memastikan kelanjutan penguatan harga ini akan terjadi sepanjang tahun.

“Kami tidak dapat mengasumsikan reli harga tembaga akan berjalan tanpa terjadinya koreksi,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, sejumlah analis meragukan reli harga tembaga dapat berlanjut hingga mencetak rekor baru. Laporan dari The Interntaional Copper Study Group menyebutkan, konsumsi tembaga tidak akan berubah banyak pada tahun ini ditengah kenaikan produksi. Hal ini akan memicu terjadinya surplus pasokan di pasar.

Di sisi lain, Laporan Fastmarkets mencatat, harga pemrosesan dan pemurnian tembaga di pasar Spot naik selama tiga pekan beruntun hingga Jumat pekan lalu ke level tertinggi dalam 1 bulan. Kenaikan tersebut dapat mengindikasikan penambahan pasokan atau penurunan permintaan tembaga.

Analis TD Securities, Ryan McKay menjelaskan, saat ini pasar telah memperhitungkan rencana China melakukan deleveraging dan menormalisasi rantai pasokan global yang dapat membebani reli harga tembaga.

Rebound harga pemrosesan dan pemurnian tembaga seiring dengan pelonggaran pada rantai pasokan global. Pasar tembaga kini sudah tidak terlihat seketat sebelumnya,” kata McKay.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas harga tembaga

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top