Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar AS Rebound dari Level Terendah, 2 Faktor Ini Jadi Pemicu

Setelah menyentuh level terendah dalam enam minggu, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,2 persen menjadi 91,204 pada sore hari di New York.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 April 2021  |  07:03 WIB
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (25/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan dolar AS di Jakarta, Rabu (25/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar AS pada akhir perdagangan, tepatnya Rabu pagi waktu Jakarta (21/4/2021), berbalik menguat atau rebound dari level terendah enam minggu sesi sebelumnya, seiring penurunan imbal hasil US Treasury dan harga minyak.

Setelah menyentuh level terendah dalam enam minggu, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,2 persen menjadi 91,204 pada sore hari di New York.

Sementara itu, Euro bergerak datar di kisaran US$1,2033 setelah naik hampir 0,4 persen didorong prospek peningkatan vaksinasi. Poundsterling Inggris turun 0,4 persen menjadi US$1,3937 setelah sempat menyentuh US$1,40 dan naik 1,0 persen pada Senin (19/4/2021).

Dolar AS telah jatuh pada April karena imbal hasil obligasi pemerintah AS mundur dari tertinggi 14 bulan di 1,776 persen yang dicapai bulan lalu. Penurunan mata uang dan imbal hasil datang sebagai bukti yang meningkat bahwa Federal Reserve akan lebih lambat tentang pengetatan kebijakan moneter daripada yang terlihat di pasar, kata para analis.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun merosot menjadi 1,57 persen setelah diperdagangkan dalam kisaran sempit sekitar 1,60 persen.

Mazen Issa, Ahli Strategi Mata Uang Senior di TD Securities, mengatakan pasar mata uang dan suku bunga bisa relatif tenang selama beberapa minggu lagi karena Fed dan Bank Sentral Eropa masing-masing meluangkan waktu untuk menyesuaikan kebijakan suku bunga mereka.

"Sebenarnya tidak ada katalis yang kuat di kedua arah bulan ini untuk benar-benar membuat kami keluar dari rentang tersebut," kata Issa.

Beberapa dorongan untuk euro datang dari pengumuman bahwa Uni Eropa telah mendapatkan tambahan 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh BioNTech dan Pfizer. Berita vaksinasi menunjukkan bahwa laju pemulihan Eropa dari pandemi akan mulai menyusul Amerika Serikat dan kisahnya tentang pertumbuhan yang lebih cepat, menurut Issa.

“Pasar valas sedang beralih dari gagasan pengecualian penuh AS ini menjadi sedikit lebih limbo sekarang,” katanya. Terhadap yen Jepang, dolar naik tipis menjadi 108,09 setelah menembus 108 untuk pertama kalinya sejak 5 Maret.

Mata uang terkait minyak terpukul ketika harga minyak mentah jatuh 1,0 persen di tengah kekhawatiran bahwa lonjakan infeksi virus corona di India akan membawa pembatasan dan mengurangi permintaan minyak.

Dolar Kanada, yang stabil menjelang pertemuan bank sentral Kanada (BoC) pada Rabu waktu setempat, kemudian melemah terbesar dalam hampir dua bulan menjadi 1,2620 terhadap dolar AS, atau 79,24 sen AS. Krona Norwegia mundur dari level terkuatnya terhadap dolar sejak 2018.

Peso Meksiko juga melemah dengan minyak setelah melayang di sekitar tertinggi tiga bulan di tengah kekuatan carry trade (aksi ambil untung dari perbedaan tingkat suku bunga antar negara) dalam mata uang pasar berkembang berimbal hasil tinggi yang didukung oleh volatilitas rendah baru-baru ini.

Sementara di pasar mata uang kripto, bitcoin naik 1,0 persen menjadi 56.211 dolar AS pada Selasa sore (20/4/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak dolar as us treasury

Sumber : Antara

Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top