Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Mentah Terbebani Perkembangan Covid-19 Global

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei 2021 melemah 0,11 poin atau 0,19 persen ke level US$59,22 per barel pada pukul 07.36 WIB.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 07 April 2021  |  07:58 WIB
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah bergerak melemah pada awal perdagangan Rabu (7/4/2021), setelah rebound sekitar satu persen pada akhir perdagangan kemarin.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei 2021 melemah 0,11 poin atau 0,19 persen ke level US$59,22 per barel pada pukul 07.36 WIB.

Pada akhir perdagangan Selasa (6/4/2021), harga minyak WTI ditutup menguat 0,68 poin atau 1,2 persen, menjadi menetap di US$59,33 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni melemah 0,19 persen atau 0,12 poin ke level US$62,62 per barel, setelah ditutup naik 1,0 persen ke US$62,74 per barel kemarin.

Harga minyak kembali melemah di tengah perkembangan Covid-19 global. Kematian terkait virus corona di seluruh dunia melampaui 3 juta pada Selasa (6/4/2021), karena kebangkitan infeksi global menantang upaya vaksinasi di seluruh dunia. Selain itu, pembatasan baru di Eropa juga membebani harga.

"Hal ini kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran atas permintaan, mengingat bahwa, saat ini, sebagian besar prospek konstruktif untuk pasar minyak didasarkan pada asumsi bahwa kami melihat pemulihan permintaan yang kuat selama paruh kedua tahun ini," analis ING Kata Warren Patterson.

Harga minyak mentah sebelumnya menguat setelah data menunjukkan aktivitas jasa-jasa AS menyentuh rekor tertinggi pada Maret. Sektor jasa China juga mengumpulkan tenaga dengan peningkatan penjualan paling tajam dalam tiga bulan.

Selain itu, Inggris berencana melonggarkan lebih banyak pembatasan virus corona pada 12 April, memungkinkan bisnis termasuk semua toko, pusat kebugaran, salon rambut, dan tempat rekreasi luar ruangan untuk dibuka kembali.

Pasar pulih dari kerugian tajam pada Senin (5/4/2021), ketika kedua harga acuan minyak turun sekitar US$3,0 karena meningkatnya pasokan minyak OPEC+ dan meningkatnya infeksi Covid-19 di India dan sebagian Eropa.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat pekan lalu untuk mengembalikan pasokan 350.000 barel per hari (bph) pada Mei, 350.000 bph lagi pada Juni dan 400.000 bph atau lebih pada Juli.

Analis pasar minyak Rystad Energy Louise Dickson mengatakan meskipun keputusan kenaikan pasokan dari OPEC+ bertentangan dengan proyeksi sebagian besar pelaku pasar dan tim risetnya sendiri,  pasar sekarang memberi isyarat bahwa mereka tidak masalah  dengan hal ini.

“[Pelaku pasar] siap untuk mendapatkan keuntungan dari kurangnya ketidakpastian bahwa pembaruan dari bulan ke bulan akan membawa hasil," kata Dickson, dikutip dari Antara.

Di Amerika Serikat, produksi minyak diperkirakan turun 270.000 barel per hari pada 2021 menjadi 11,04 juta barel per hari, kata Badan Informasi Energi AS (EIA), penurunan yang lebih tajam dari perkiraan bulanan sebelumnya yang turun 160.000 barel per hari.

Data industri mingguan tentang persediaan minyak AS akan dirilis pada Selasa (6/4/2021) pukul 16.30 waktu setempat (2030 GMT). Persediaan minyak mentah dan bensin diperkirakan turun minggu lalu.

Pejabat AS dan Iran akan memulai pembicaraan tidak langsung di Wina pada Selasa (6/4/2021) untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia, yang dapat menyebabkan Washington mencabut sanksi pada sektor energi Iran.

Goldman Sachs mengatakan setiap potensi pemulihan dalam ekspor minyak Iran tidak akan mengejutkan pasar, dan pemulihan penuh tidak akan terjadi hingga musim panas 2022.

Sementara itu, ketegangan antara Arab Saudi dan India memanas. Pabrik penyulingan milik negara India berencana untuk membeli 36 persen lebih sedikit minyak dari Arab Saudi pada Mei dari biasanya, kata tiga sumber.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah harga minyak brent harga minyak mentah wti Covid-19

Sumber : Antara, Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top