Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Memasuki Maret, Bagaimana Saran untuk Investor Reksa Dana?

Mengacu data Infovesta Utama, sepanjang tahun berjalan hingga Februari 2021 reksa dana saham masih memimpin tahun ini dengan imbal hasil 1,25 persen.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 01 Maret 2021  |  14:45 WIB
Karyawati menunjukan Uang Rupiah dan Dollar AS di salah satu kantor cabang Bank BNI di Jakarta, Kamis (3/9/2020).  Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawati menunjukan Uang Rupiah dan Dollar AS di salah satu kantor cabang Bank BNI di Jakarta, Kamis (3/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Dipengaruhi oleh sejumlah sentimen di awal tahun ini, secara year to date kinerja reksa dana terpantau beragam. Memasuki bulan ketiga di 2021, sentimen apa saja yang mewarnai reksa dana?

Mengacu data Infovesta Utama, sepanjang tahun berjalan hingga Februari 2021 reksa dana saham masih memimpin tahun ini dengan imbal hasil 1,25 persen, diikuti reksa dana campuran 0,81 persen, dan reksa dana pasar uang 0,61 persen.

Sementara reksa dana pendapatan tetap terpantau turun makin dalam dengan kinerja negatif 1,91 persen.

Tim Infovesta mengatakan, reksa dana pendapatan tetap kian tertekan seiring dengan tren kenaikan imbal hasil obligasi di Indonesia melalui data imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang naik sebesar 0,55 persen year to date.

“Pemangkasan tingkat suku bunga sebesar 25 bps ke level 3,5 persen yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia pada tanggal 18 Februari lalu tidak cukup kuat untuk membawa kinerja reksa dana berbasis obligasi year to date ke zona hijau,” tulis Infovesta dalam publikasinya, seperti dikutip Bisnis, Senin (1/3/2021)

Namun demikian, secara umum pasar obligasi Indonesia tidak kehilangan daya tariknya. Terbukti, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp17,39 triliun sepanjang tahun 2021.

Hal ini juga didukung dengan persepsi risiko terhadap obligasi Indonesia melalui credit default swap (CDS) 5 tahun terjaga di bawah level 100 sepanjang tahun 2021 serta selisih imbal hasil obligasi Indonesia dengan AS yang masih menarik sebesar 5,18 persen.

Selain itu, kenaikan imbal obligasi 10 tahun Indonesia yang sudah mencapai level 6,6 persen ini cenderung kompetitif dengan pasar saham, yang mana kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) secara year to date memperoleh imbal hasil 4,39 persen.

“Sehingga hal ini menandakan bahwa dengan risiko yang lebih rendah investor berpotensi mendapatkan imbal hasil yang lebih menarik,” tambah Infovesta.

Kendati demikian, investor tetap harus memperhatikan bahwa kinerja reksa dana berbasis pendapatan tetap dengan dominasi obligasi pemerintah cenderung lebih fluktuatif daripada reksa dana berbasis pendapatan tetap dengan dominasi obligasi korporasi di tengah tren kenaikan yield saat ini.

Dari sisi pasar saham, pada awal bulan ini investor menantikan data inflasi Indonesia yang dapat menentukan arah sentimen perdagangan pada awal bulan Maret ini.

Adapun, pengesahan stimulus fiskal jumbo AS berpotensi mendorong pemulihan ekonomi secara global yang mana pada hari sabtu kemarin telah disetujui oleh DPR Amerika Serikat.

Infovesta menilai stimulus tersebut juga berpotensi membuat harga komoditas mengalami penguatan karena pelemahan dolar.

Selain itu, di Indonesia sendiri juga masih menantikan progres vaksin dan realisasi efikasi vaksin di Indonesia sehingga pasar saham masih berpotensi untuk bergerak fluktuatif sepanjang bulan Maret 2021.

“Dengan demikian, Investor dapat wait and see terhadap kinerja reksa dana saham selama bulan Maret dan dapat menjadikan koreksi jangka pendek pasar saham sebagai momentum untuk melakukan average down,” papar Infovesta.

Untuk reksa dana berbasis pendapatan tetap, meskipun kebijakan BI tetap mempertahankan suku bunga rendah, perlu diingat tren kenaikan imbal hasil dapat memicu pelemahan harga obligasi.

“Sehingga investor masih dapat wait and see menantikan pelemahan obligasi yang masih berpotensi berlanjut dan menjadikan pelemahan jangka pendek pasar obligasi sebagai momentum untuk average down,” pungkas Infovesta.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Obligasi reksa dana investasi reksa dana
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top