Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja IHSG Februari Ciamik, Bagaimana Proyeksi  Maret 2021?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 4,39 persen selama Februari 2021. Prospek jangka panjang IHSG dinilai masih sangat baik ditopang dari upaya pemulihan ekonomi Indonesia serta penanganan Covid-19 melalui vaksinasi.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 26 Februari 2021  |  18:30 WIB
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Februari 2021 ini mengalami kenaikan cukup signifikan. Membuka indeks di bawah level psikologis 6.000, IHSG menutup Februari di atas 6.200.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, indeks komposit menutup Februari dengan pelemahan harian, tetapi sepanjang Februari 2021 kinerja indeks cukup baik. Secara year to date, IHSG menguat 4,39 persen.

Pada 1 Februari 2021, indeks dibuka di level 5.856,78, sedangkan indeks ditutup di level 6.241,80 pada penutupan perdagangan 26 Februari 2021. Artinya, IHSG menguat 385,02 poin atau naik 6,47 persen.

Sepanjang Februari 2021, sebanyak 424 emiten harga sahamnya ditutup di zona hijau, sebanyak 169 emiten berada di zona merah, dan sebanyak 124 emiten harga sahamnya tidak berubah sejak perdagangan awal bulan.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengungkapkan sepanjang Februari 2021, indeks komposit dipengaruhi optimisme investor terhadap pemulihan ekonomi pada 2021, baik global maupun domestik.

Selain itu, kenaikan harga komoditas dunia juga merupakan katalis positif bagi pasar yang menyebabkan harga saham sejumlah emiten terkait komoditas cukup melambung.

Pasar pun mengapresiasi komitmen Presiden AS Joe Biden yang akan menerapkan kebijakan stimulus program senilai US$1,9 triliun. Selain itu, dinamika vaksinasi massal, baik domestik maupun internasional juga diapresiasi positif pasar yang membuat pelaku pasar mulai berani masuk ke aset yang lebih berisiko.

"Para pelaku pasar masih mengapresiasi kebijakan Powell dalam mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter ke depan dalam rangka pemulihan ekonomi di negeri paman Sam," urainya kepada Bisnis, Kamis (26/2/2021).

Dia juga menilai sentimen data dalam negeri pun menjadi salah satu katalis positif kinerja IHSG sepanjang Februari 2021 ini. 

Surplus daripada neraca perdagangan Indonesia disikapi positif para pelaku pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Indonesia sepanjang 2020 mengalami surplus sebesar US$21,74 miliar.  Total nilai ekspor pada 2020 mencapai sebesar US$163,31 miliar. Posisi tersebut turun 2,61 persen secara tahunan. 

Sementara, total nilai impor secara kumulatif pada 2020 tercatat mencapai US$141,57 miliar. Dibandingkan dengan posisi 2019, nilai impor terjadi penurunan yang cukup dalam sebesar 17,34 persen.

Selain itu, terdapat data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang menunjukkan kinerja yang semakin ekspansif. PMI manufaktur Indonesia dari IHS Markit periode Januari 2021 tercatat naik 52,2 lebih tinggi dari periode bulan sebelumnya atau Desember 2020 yang sebesar 51,3. 

Menurut IHS Markit peningkatan terbaru di sektor kesehatan merupakan yang paling cepat selama enam setengah tahun, dan yang paling besar sejak survei pada April 2011.

"Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah di level Rp14.000 dan penurunan suku bunga BI 7DRRR sebesar 25 bps disikapi positif oleh para pelaku pasar," jelasnya.

Dia memproyeksi indeks komposit secara prospek jangka panjang masih sangat baik ditopang dari upaya pemulihan ekonomi Indonesia serta penanganan Covid-19 melalui vaksinasi.

Di sisi lain, pada Maret 2021, sejumlah data-data ekonomi nasional dan global akan dirilis. Sentimen pasar terhadap pengumuman data-data ekonomi ini pun dapat mempengaruhi kinerja indeks.

"Pekan depan ada pengumuman data-data inflasi, loan growth, PMI Manufaktur Indonesia. Dari global akan keluar juga data PMI manufacture and services, OPEC Meeting, US nonfarm payroll," paparnya.

Pengumuman data-data dalam negeri yang dirilis pekan depan tentunya jika hasil data-data tersebut di atas ekspektasi pasar, maka akan sangat berarti bagi kenaikan kinerja indeks.

Secara teknikal, jelas Nafan, berdasarkan rasio fibonacci, adapun support maupun resistance berada pada 6179.13 hingga 6351.18. Berdasarkan indikator, MACD, Stochastic dan RSI masih menunjukkan sinyal positif. 

"Di sisi lain, terlihat pola bullish doji star candle yang mengindikasikan adanya potensi penguatan pada pergerakan IHSG sehingga ke depannya berpeluang menuju ke resistance terdekat," urainya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI prediksi ihsg
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top