Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lelang Sukuk Negara Sepi Peminat, Investor Lebih Kepincut Obligasi AS

Dari enam seri sukuk negara yang ditawarkan hari ini, penawaran masuk mencapai Rp24,23 triliun. Jumlah tersebut lebih rendah dari lelang sukuk sebelumnya.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 23 Februari 2021  |  19:52 WIB
Gedung Kementerian Keuangan - kemenkeu.go.id
Gedung Kementerian Keuangan - kemenkeu.go.id

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah penawaran masuk untuk lelang surat berharga syariah negara (SBSN) pekan ini kembali turun. Pemerintah terpantau membatasi penyerapan lelang kali ini.

Berdasarkan rilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, dari enam seri sukuk negara yang ditawarkan pemerintah menghasilkan penawaran masuk senilai Rp24,23 triliun.

Adapun dari lelang hari ini total nominal yang dimenangkan oleh pemerintah adalah Rp4,99 triliun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 persen dari target penyerapan yang dicanangkan pemerintah sebelumnya sebanyak Rp12 triliun.

Ini menurun dibandingkan lelang SBSN dua pekan lalu yang mana penawaran masuk sebesar Rp26,1 triliun dan pemerintah menyerap sebanyak Rp12 triliun.

VP Economist Bank Permata Josua Pardede menilai lelang kali ini memang menunjukkan penurunan minat investor. Pasalnya, di tengah tren penguatan yield obligasi global, investor mencari imbal hasil yang besar.

Apalagi, tambah Josua, di pasar sekunder yield obligasi Indonesia baik SBSN maupun SBN atau obligasi konvensional tengah berada dalam tren meningkat lebih dari sepakan ini mengikuti tren US Treasury.

Data dari laman World Government Bonds mencatat, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun adalah sebesar 6,706 persen. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 37,2 basis poin selama sepekan belakangan.

Sementara yield US Treasury atau obligasi negara AS dengan tenor yang sama saat ini berada di level 1,35 persen, level tertingginya sejak Maret tahun lalu.   

“Ini menyebabkan investor meminta yield cukup tinggi sehingga pemerintah tidak menyerap sepenuhnya,” ujar Josua ketika dihubungi Bisnis, Selasa (23/2/2021)

Lebih lanjut, Josua menyebut pemerintah tengah membatasi penyerapannya untuk menghindari yield tinggi. Ini terlihat dari seri yang paling banyak dimenangkan oleh pemerintah merupakan seri dengan tenor terpendek yang memiliki yield terkecil

Tercatat, seri SPN-S 10082021 yang jatuh tempo 10 Agustus 2021 ini menjadi seri yang mendapat penawaran masuk kedua terbesar yakni Rp4,88 triliun dengan rata-rata yield tertimbang adalah 3,07 persen. Pemerintah memenangkan seri ini Rp4,05 triliun, terbanyak di antara seri lainnya.

Di lain pihak, pemerintah memenangkan seri-seri dengan tenor panjang sangat sedikit, bahkan di bawah 1 triliun. Pun, untuk seri menengah pemerintah sama sekali tak ambil bagian. 

Di sisi lain, dari dalam negeri pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia yang seharusnya memberikan sentimen positif ke pasar obligasi nyatanya diacuhkan oleh investor karena sentimen dari global lebih kuat.

Josua menuturkan, tren ini masih akan terjadi dalam jangka pendek karena investor masih menanti perkembangan stimulus di AS yang diharapkan akan mendorong pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam itu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sukuk kemenkeu lelang sukuk
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top