Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jadi Ramai Gara-gara Elon Musk, Intip Peluang Cuan dari Bitcoin

Kalangan analis berpendapat, investor harus memiliki rencana investas yang jelas bila hendak bermain di Bitcoin. Investor pemula tidak disarankan membeli Bitcoin untuk ajang spekulasi.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 18 Februari 2021  |  05:00 WIB
Ilustrasi Bitcoin. Aset cryptocurrency terbesar ini menembus level US23.000 untuk pertama kalinya pada Kamis (17/12/2020). - Bloomberg
Ilustrasi Bitcoin. Aset cryptocurrency terbesar ini menembus level US23.000 untuk pertama kalinya pada Kamis (17/12/2020). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang kripto Bitcoin kembali naik daun setelah CEO Tesla Inc. Elon Musk membelanjakan US$1,5 miliar di aset digital tersebut. Apa yang membuat Bitcoin menarik dan apakah saat ini waktu yang tepat untuk masuk?

Mengacu pada data Bloomberg, setelah kemarin menembus level US$50.000, harga Bitcoin kembali naik 4,8 persen menjadi sekitar US$50.927 pada Rabu (17/2/2021). Adapun kenaikan token Bitcoin ini telah meningkat lebih dari lima kali lipat dalam setahun terakhir.

CEO Indodax Oscar Darmawan menjelaskan, lonjakan harga dipicu faktor penawaran dan permintaan Bitcoin yang  mengadopsi teknologi blockchain. 

Mulai 2020 dan awal tahun ini terjadi permintaan Bitcoin secara masif yang terjadi terus menerus dan total transaksinya tinggi. Hal itu dipicu  oleh beberapa nama korporasi besar yang membeli Bitcoin. Seperti Square, Tudor Investment Corp, JP Morgan dan lain-lain dan terakhir ada Tesla. 

“Mereka membeli Bitcoin karena Bitcoin sudah bisa menjadi aset safe haven di kala pandemi dan dapat menjadi nilai lindung inflasi yang baik,”  katanya, Rabu (17/2/2021)

Oscar mengatakan orang-orang juga cenderung membeli Bitcoin karena meningkatnya pemahaman dan kepercayaan terhadap aset digital tersebut. Kepercayaan itu bertambah saat harga Bitcoin sudah mencatatkan kenaikan harga yang fantastis. 

Selain itu, tambahnya, faktor kedua adalah pasokan Bitcoin yang lebih sulit didapatkan dari mining zone saat ini. Miners atau penambang sulit mendapatkan Bitcoin karena momen halving day atau pembatasan supply yang terjadi pada tahun lalu. 

Dia memperkirakan dampak ini akan terus terjadi selama satu tahun. Bahkan, besar kemungkinan Bitcoin masih berpotensi naik ini seperti yang diramalkan oleh JP Morgan, yang mana harga Bitcoin bisa mencapai Rp1 miliar atau bahkan lebih.  

“Tapi nantinya ada saat dimana masa resisten atau masa jenuh yang terjadi sementara. Karena orang-orang akan melakukan aksi taking profit atau mengambil keuntungan. Sehingga permintaan bitcoin menurun,” jelas dia. 

 Secara terpisah, analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan mata uang kripto seperti Bitcoin digemari sebagai aset safe haven dan sarana lindung nilai atau hedging, apalagi kripto berbasis teknologi sehingga dinilai lebih efisien.

“Fiat money tergerus inflasi. Aset emas yang tradisionalnya sebagai inflationary hedge memiliki fisik dan perlu storage mungkin jadi kurang efisien ya. Kripto juga aset seperti emas tapi kelebihannya secara teknologi lebih efisien, unbanked, connected, demokratis,” tuturnya.

Wahyu menyebut kelemahan kripto hanya pada legitimasi oleh negara. Namun, itu tidak menjadikannya sebagai aset yang ilegal. Apalagi kini perdagangannya juga mulai difasilitasi dan punya koridor yang jelas.

Dia menyebut Bitcoin sebagai aset yang menjanjikan dengan tren jangka panjang yang positif alias bullish. Seperti disebut sebelumnya, dia juga meyakini harga BItcoin akan terus merangkak naik di masa depan. Bahkan, dia menyebut tanpa sentimen Tesla pun Bitcoin memang dalam tren bullish dan bisa menembus US$100.000.

Akan tetapi, dia menekankan bahwa kripto merupakan aset yang sangat berisiko yang mana pergerakannya sangat volatil, jauh lebih volatil dari aset lain yang mana harga aset digital ini bisa berubah drastis dalam hitungan jam.

“Misal 1 November 2020 lalu, dari US$38.000-an ke US$31.000-an. Anjlok sekitar US$7.000.   Artinya nilainya sangat besar. Emas atau XAUUSD saja yg bergerak sekitar rerata 50-100 poin harian itu pun sudah cukup berbahaya atau sangat berisiko,” ujarnya mencontohkan. 

Bagi investor yang tertarik masuk ke Bitcoin, kata Wahyu, harus memiliki pola dan target investasi yang jelas, apakah jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. 

Menurutnya, untuk jangka menengah atau panjang potensi keuntungan akan lebih besar asalkan ketersediaan dana cukup besar atau memiliki kemampuan averaging position dan masuk setiap terjadi kejatuhan harga.

“Namun jika tuk short term harus diperhitungkan potensi koreksi nya. Sebaliknya memang harus bersabar menanti harga murah atau buy on weakness,” saran Wahyu.

Dia menilai jika investor masuk di tahap sangat tinggi jelas risiko juga besar jika terlalu berharap segera naik, apalagi secara historis rentang koreksi. Wahyu juga mengingatkan agar jangan menjadikan kripto sebagai ajang spekulasi bagi investor pemula.

Menurutnya, kripto tidak memiliki dasar fundamental yang jelas kecuali sentiment market seperti sekarang ini ada sentimen Elon Musk, stimulus AS, dll. Sehingga mengandalkan faktor teknikal cukup penting bagi investor kripto.

“Jadikan aset jangka panjang atau aset yang memang bisa digunakan untuk transaksi efisien. Jika untuk investasi, mungkin ini masuk akal. Buy and forget,” pungkasnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin Tesla Motors elon musk mata uang kripto
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top