Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lonjakan Impor dan Kasus Covid-19 di China Lambungkan Harga Bijih Besi

Kenaikan harga bijih besi dan batu bara kokas akan ikut melambungkan harga baja.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 15 Januari 2021  |  11:18 WIB
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui
Seorang pekerja sedang meratakan bijih besi di atas kereta cargo di stasiun kereta Chitradurga, di Karnataka, India (9/11/2012)/Reuters/Danish Siddiqui

Bisnis.com, JAKARTA – Harga bijih besi mengalami penguatan seiring dengan investor yang merespons positif angka impor dan lonjakan kasus virus corona pada sejumlah wilayah industri pembuatan baja di China.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (14/1/2020), harga bijih besi berjangka di Singapura sempat naik sebanyak 0,6 persen ke level US$162,22 per ton hingga pukul 11.14 waktu setempat.

Sementara itu, harga bijih besi juga sempat naik hingga 0,53 persen ke US$1.043,50 per ton di Dalian Commodity Exchange (DCE). Secara year to date (ytd) harga bijih besi telah naik 10,38 persen.

Salah satu katalis positif penguatan harga bijih besi adalah respon positif pasar terkait data impor China. Data dari Bea Cukai China mencatat angka impor bijih besi China pada Desember 2020 tumbuh 9,5 persen secara ytd ke 1,17 miliar ton.

Adapun, pada tahun 2020, China juga mencatatkan angka impor bijih besi tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini mencerminkan tingkat permintaan biji besi yang kuat dari China.

Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan penyebaran virus corona yang kembali terjadi di China. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan 124 kasus infeksi baru pada 13 Januari kemarin.

Perinciannya, sebanyak 81 kasus tercatat di provinsi Hebei dan 43 lainnya di Heilongjiang pada kawasan timur laut China. Provinsi Hebei juga melaporkan 1 kematian yang menjadi fatalitas pertama sejak April tahun lalu.

Adapun, pada awal pekan ini, kota-kota di provinsi Hebei seperti Shijiazuang dan Xingtai telah melakukan pembatasan pergerakan manusia dan kendaraan-kendaraan bermotor.

Pasar terus memperhatikan kabar ini karena Hebei merupakan salah satu wilayah utama penghasil baja di Negeri Panda tersebut. Berdasarkan data dari Asosiasi Besi dan Baja China, provinsi yang berdekatan dengan ibu kota negara, Beijing, itu memproduksi 22 persen dari keseluruhan output baja di China.

Laporan dari Huatai Futures menyebutkan, penyebaran virus corona ini menimbulkan kekhawatiran terkait proses distribusi baja di bagian hilir rantai pasokan. Hal tersebut membuat sejumlah produsen baja lebih memilih untuk melakukan pemeliharaan pabrik dalam skala kecil yang dapat berimbas pada guncangan di pasar dalam jangka pendek.

“Tetapi, dalam jangka menengah harga bijih besi masih dapat kembali menguat seiring dengan pemulihan produksi baja di luar China,” demikian kutipan laporan tersebut.

Sementara itu, riset dari Sinosteel Futures menyebutkan, salah satu faktor penopang kenaikan harga komoditas ini adalah langkah pabrik-pabrik baja di China yang melakukan penyetokan ulang bijih besi. Sebagai informasi, bijih besi merupakan komoditas yang menjadi bahan dasar pembuatan baja.

“Pabrik baja saat ini melakukan penyetokan bijih besi jelang musim liburan. Dengan keuntungan dari baja yang cukup baik saat ini, pabrik-pabrik kemungkinan akan menambah pembelian bijih besi ditengah terhambatnya distribusi akibat penyebaran virus corona,” demikian kutipan laporan tersebut.

Secara terpisah, laporan dari Goldman Sachs menyebutkan, pasar bijih besi global pada tahun ini akan cukup terganggu. Hal ini terjadi seiring dengan faktor cuaca yang berpotensi menghambat pasokan bijih besi global pada kuartal I/2021.

Goldman Sachs mengatakan, defisit pasokan bijih besi akan terlihat jelas pada semester I/2021. Hal ini terjadi karena minimnya jumlah inventaris komoditas ini pada pabrik-pabrik di China.

“Hal ini membuat pasar rentan terpapar risiko dari terguncangnya pasokan dan lonjakan permintaan secara tiba-tiba,” demikian kutipan laporan tersebut.

Laporan Goldman Sachs sejalan dengan perkiraan pasar yang menyatakan tingkat konsumsi bijih besi akan melampaui pasokan pada tahun ini, terutama pada paruh pertama tahun 2021.

Riset tersebut juga menyebutkan, rencana China untuk memangkas output baja lokal dan meningkatkan pasokan bijih besi dometik tidak akan berdampak signifikan terhadap pergerakan pasar.

Goldman Sachs melanjutkan, keputusan China untuk memangkas output baja lokal adalah untuk mendorong impor baja dan mengalihkan permintaan bijih besi dan volume penjualan baja ke pabrik-pabrik di luar China.

“Pergeseran yang dilakukan China tidak mengubah kondisi pasar bijih besi yang tetap akan mengalami defisit pasokan,” tulis laporan tersebut.

Menteri Perindustrian China Xiao Yaqing mengatakan, pemerintah akan memastikan penurunan produksi baja pada tahun depan. Hal tersebut dilakukan karena pemerintah Negeri Panda tersebut akan merevisi sejumlah pedoman produksi guna menekan emisi karbon.

Sebelumnya, pemerintah China juga telah merilis dokumen yang memperketat ketentuan untuk mengurangi produksi bajanya.

Adapun, sepanjang 2020 lalu, pabrik-pabrik baja di China mencatatkan hasil produksi baja campuran (alloy) tertinggi pada tahun ini. Hal tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan pembangunan di China yang menggelontorkan stimulus di sektor konstruksi guna memulihkan perekonomian dari pandemi virus corona.

Luo Tiejun, Wakil Ketua Asosiasi Besi dan Baja China mengatakan, harga bijih besi diperkirakan akan menuju tren penurunan setelah pasar mencerna dan mewujudkan spekulasi harga yang saat ini terjadi.

“Kenaikan harga bijih besi dan batu bara coking akan ikut melambungkan harga baja dan akan menekan keuntungan pabrik-pabrik secara signifikan,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Adapun, asosiasi tersebut juga telah meminta pemerintah China untuk merancang mekanisme penentuan harga terbaru untuk bijih besi. Ia juga meminta otoritas perdagangan untuk meningkatkan pengawasan pada pasar bijih besi di masa depan.

Riset dari Mysteel menyebutkan harga bijih besi akan mencapai titik tertingginya pada kuartal I/2021 mendatang sebelum kembali turun karena kenaikan jumlah pasokan ke China. Harga bijih besi diprediksi berada di kisaran US$110 hingga US$120 per metrik ton pada 2021, lebih tinggi dibandingkan proyeksi tahun ini sebesar US$109 hingga US$110 per metrik ton.

Sementara itu, laporan dari Trading Economics memperkirakan, harga bijih besi akan perlahan-lahan menurun pada 2021. Laporan tersebut memperkirakan harga bijih besi akan diperdagangkan pada US$151,51 per ton pada akhir kuartal I/2021.

“Dalam periode 12 bulan mendatang, harga bijih besi akan turun ke posisi US$132,33 per ton,” demikian kutipan laporan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

baja bijih besi logam
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top