Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Pangkas Produksi Baja pada 2021, Harga Bijih Besi Terkoreksi

Pemerintah China memastikan penurunan produksi baja pada tahun depan menyusul rencana merevisi sejumlah pedoman produksi guna menekan emisi karbon.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 30 Desember 2020  |  13:36 WIB
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA – Harga bijih besi terus tertekan seiring dengan proyeksi penurunan produksi baja dari China pada 2021 mendatang.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (30/12/2020), harga bijih besi berjangka di Singapura sempat turun sebanyak 4 persen ke level US$154,40 per ton hingga pukul 10.34 waktu setempat.

Sementara itu, harga komoditas bahan dasar pembuatan baja tersebut sempat anjlok 4,51 persen ke US$973,50 per ton di Dalian Commodity Exchange (DCE). Koreksi ini sekaligus melanjutkan tren penurunan harga bijih besi selama tiga hari berturut-turut.

Salah satu faktor penekan harga bijih besi adalah prospek penurunan tingkat permintaan baja dari China. Permintaan China terhadap baja yang terjaga pada tahun 2020 diperkirakan akan menurun memasuki tahun 2021.

Menteri Perindustrian China Xiao Yaqing mengatakan, pemerintah akan memastikan penurunan produksi baja pada tahun depan. Hal ini dilakukan karena pemerintah Negeri Panda tersebut akan merevisi sejumlah pedoman produksi guna menekan emisi karbon.

Sebelumnya, pemerintah China juga telah merilis dokumen yang memperketat ketentuan untuk mengurangi produksi bajanya.

Adapun, sepanjang tahun ini, pabrik-pabrik baja di China mencatatkan hasil produksi baja campuran (alloy) tertinggi pada tahun ini. Hal tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan pembangunan di China yang menggelontorkan stimulus di sektor konstruksi guna memulihkan perekonomian dari pandemi virus corona.

Di sisi lain, kenaikan pasokan bijih besi secara global telah muncul secara perlahan. Berdasarkan data Global Ports, jumlah pengiriman bijih besi dari Australia pada 25 Desember tercatat sebanyak 20,1 juta ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan jumlah pasokan pada 18 Desember lalu di level 15,8 juta ton.

Meski demikian, jumlah produksi bijih besi di Negeri Kangguru tersebut juga asih dibayangi sejumlah sentimen negatif. Siklus cuaca pada awal tahun 2021 diperkirakan akan mengganggu proses produksi bijih besi pada kuartal I/2021 mendatang.

Sementara itu, angka rata-rata ekspor bijih besi di Brazil pada 18 hari kerja di bulan Desember tercatat sebesar 1,48 juta ton. Jumlah tersebut lebih tinggi dari rerata ekspor sepanjang Desember 2019 sebanyak 1,19 juta ton.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china bijih besi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top