Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pandemi Corona Kian Menggila, Rupiah Tak Berdaya

Salah satu faktor penekan nilai rupiah adalah pemberlakuan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jawa dan Bali. Penerapan PSBB membuat target pertumbuhan ekonomi dinilai sulit dicapai sehingga menjadi sentimen negatif.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  15:39 WIB
Karyawati menunjukan uang rupiah dan dolar AS di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (5/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan uang rupiah dan dolar AS di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (5/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah seiring dengan langkah pemerintah memberlakukan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat alias PPKM. 

Berdasarkan data Bloomberg, berdasarkan, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 15 poin atau 0,11 persen di posisi Rp13.910 per dolar AS. Sedangkan indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya terpantau naik 0,01 persen ke level 89,538.  

Selanjutnya, data yang diterbitkan Bank Indonesia menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp13.938 per dolar AS, melemah 12 poin atau 0,08 persen dari posisi Rp13.926 pada Rabu (6/1/2021).  

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya menyebutkan, salah satu faktor penekan nilai rupiah adalah pemberlakuan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Jawa dan Bali. Pengetatan PSBB yang dilakukan oleh pemerintah, juga dilakukan oleh berbagai negara di dunia, tujuannya agar pandemi virus corona dapat dikendalikan.

Namun, pengetatan ini dapat berpengaruh fatal terhadap konsumsi masyarakat yang berujung terhadap kontraksi pertumbuhan ekonomi di kuartal I/2021 di kisaran 1 persen hingga 2 persen.

“Artinya, proyeksi pertumbuhan ekonomi yang di gadang-gadang oleh pemerintah sebesar 5 persen kemungkinan tidak akan tercapai dan pemerintah kemungkinan akan merevisi pertumbuhan ekonominya di kuartal I/2021,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Kamis (7/1/2020).

Selain itu, pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi di Kuartal IV/2020 masih akan periode sebelumnya sebesar 3,49 persen. Namun, saat ini Indonesia masih masuk dalam fase resesi.

Dari luar negeri, kemenangan dua kandidat Senator pada pemilihan di Georgia membuka jalan bagi Presiden terpilih Joe Biden untuk mendorong agenda legislatifnya, termasuk lebih banyak langkah stimulus, ketika pemerintahannya mulai menjabat pada 20 Januari. Di sisi lain, protes oleh pendukung Presiden Donald Trump di Capitol Hill juga menimbulkan kekhawatiran.

Senat yang dikendalikan Demokrat dianggap berdampak baik untuk pertumbuhan ekonomi global dan untuk sebagian besar aset berisiko. Namun, dampak negatif akan muncul untuk obligasi dan dolar AS karena anggaran AS dan defisit perdagangan dapat semakin melebar.

Sementara itu, The Federal Reserve (The Fed) telah merilis risalah dari pertemuan kebijakan Desember pada hari Rabu. Dalam laporan tersebut, The Fed hampir sepakat dalam keputusannya bulan lalu untuk melanjutkan program pembelian obligasi.

Untuk perdagangan besok, Ibrahim memprediksi rupiah akan kembali dibuka melemah pada level Rp13.900 hingga Rp13.950.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Rupiah amerika serikat
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top