Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Punya Liabilitas Jangka Pendek Rp8 T, VIVA Komitmen Restrukturisasi

Direktur Visi Media Asia Sahid Mahudie mengatakan VIVA akan restrukturisasi fasilitas utang yang ada melalui pembiayaan kembali dalam mata uang lokal untuk menurunkan risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 31 Desember 2020  |  14:21 WIB
Direktur Visi Media Asia Sahid Mahudie dalam Paparan Publik VIVA, Rabu (30/12 - 2020).
Direktur Visi Media Asia Sahid Mahudie dalam Paparan Publik VIVA, Rabu (30/12 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten media milik Grup Bakrie PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA) berkomitmen melakukan restrukturisasi utang melalui berbagai alternatif.

Direktur Visi Media Asia Sahid Mahudie mengatakan VIVA akan restrukturisasi fasilitas utang yang ada melalui pembiayaan kembali dalam mata uang lokal untuk menurunkan risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Pun, perseroan berencana untuk mendapatkan tambahan fasilitas kredit modal kerja Menurutnya, fasilitas utang dari bank lokal memiliki tenor pinjaman yang lebih panjang serta bunga yang lebih kompetitif.

“Kita akan terus mencari alternatif-alternatif untuk menyelesaikan atau deleveraging utang,” katanya, Rabu (30/12/2020).

Per September 2020, liabilitas jangka pendek VIVA mencapai Rp8,03 triliun, naik dari akhir 2019 sebesar Rp7,11 triliun. Adapun, liabilitas jangka panjang Rp415,21 miliar, sehingga total liabilitas mencapai Rp8,44 triliun.

Sahid Mahudie mengatakan bahwa secara industri bisnis media turut mengalami tekanan sepanjang tahun ini akibat pelemahan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19. Akan tetapi, dia optimistis kondisi tersebut akan berbalik pada 2021 nanti seiring dengan perkembangan ekonomi.

“VIVA Group tahun ini memang turun, baik itu ANTV [MDIA] dan VIVA, jelas akibat terdampak pandemi,” katanya.

Sahid mengutip laporan Media Partners Asia (MPA) per Juni 2020 yang memperkirakan anggaran belanja iklan di media di Indonesia sepanjang 2020 mengalami penyusutan hingga 15,2 persen dibandingkan 2019 lalu.

Adapun, data yang sama mengatakan belanja iklan di media akan tumbuh pesat, yakni sekitar 7,5 persen pada 2021 mendatang. Sebagai perbandingan, pada 2019 lalu belanja iklan di media mencetak pertumbuhan 4,5 persen year on year.

“MPA menargetkan industri akan tumbuh sekitar 7,5 persen, jadi kita harus di atas itu. Paling kita akan tumbuh dobel digit,” ujar Sahid.

Di sisi lain, VIVA bersiap melakukan diversifikasi bisnis, seiring dengan implementasi pasal terkait bisnis penyiaran yang ada dalam Undang-undang Cipta Kerja, salah satunya yang memperbolehkan unit usaha penyiaran merambah ke bidang usaha lain.

Direktur Visi Media Asia Neil R. Tobing menuturkan, dengan aturan baru tersebut perseroan bisa melakukan hal-hal lain yang berhubungan dengan penyiaran seperti manajemen acara (event management), promosi daring dan luring, termasuk menjadi rumah produksi.

“Artinya VIVA dapat melakukan diversifikasi usaha yang selanjutnya akan memberikan revenue tambahan selain penyiaran. Jadi ke depan kami akan memperkuat revenue stream melalui kegiatan-kegiatan lain seperti video on demand, IBB TV, IPTV, dan sebagainya,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Grup Bakrie visi media asia restrukturisasi utang
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top