Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jelang Akhir Tahun, Ini Strategi Manajer Investasi Biar Cuan Kian Tebal

Para manajer investasi siap melakukan rebalancing portofolio menyambut momentum window dressing di akhir tahun. Secara historis rata-rata kenaikan saham di tengah momentum window dressing adalah sekitar 4 persen.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 24 November 2020  |  18:35 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Akhir tahun kerap dikaitkan dengan fenomena window dressing di pasar saham. Bagaimana strategi manajer investasi dalam menyusun portofolionya jelang akhir tahun ini?

Fenomena window dressing merupakan kondisi ketika harga saham-saham di bursa cenderung menguat jelang pergantian tahun. Momentum ini kerap dimanfaatkan manajer investasi untuk mempercantik kinerja portofolionya.

Direktur Panin Asset Manajemen Rudiyanto mengatakan kendati tahun ini pergerakan pasar saham cenderung sulit ditebak akibat adanya pandemi, tapi fenomena window dressing sesuai dengan tradisi historis di pasar saham diprediksi tetap terjadi.

Dia menjelaskan, secara historis rata-rata kenaikan saham di tengah momentum window dressing adalah sekitar 4 persen. Adapun catatan kenaikan paling rendah sekitar 0,4 persen dan tertinggi 12 persen.

Akan tetapi, melihat agresivitas pergerakan saham belakangan ini, Rudiyanto memperkirakan persentase kenaikan saham di akhir tahun ini tak akan terlalu signifikan.

“Kenaikan bulan November sudah sedemikian tinggi, mungkin persentasenya tidak besar. Untuk Desember ini rasanya akan kurang dari 4 persen,” jelas Rudiyanto kepada Bisnis, Selasa (24/11/2020).

Lebih lanjut, dia mengatakan biasanya dalam memanfaatkan momentum Panin Asset Manajemen melakukan pemilihan saham berdasarkan stock picking (saham per saham) secara spesifik dan bukan melihat secara sektoral.

“Untuk rebalancing biasanya untuk saham yang harganya naik dan mendekati bobot 10 persen atau maksimal yang kami perbolehkan dalam reksa dana kami kurangi sedikit dan dipindahkan ke saham yang valuasinya murah,” jelas dia.

Namun, tambah Rudiyanto, pihaknya tak serta merta melakukan penyesuaian portofolio. Menurutnya, rebalancing baru dilakukan kalau ada pembelian unit reksa dana atau net subscription.

Dalam jangka pendek, dia melihat saham berkapitalisasi kecil dan menengah atau small and medium caps masih murah dan berpeluang naik lebih tinggi dibandingkan saham-saham berkapitalisasi jumbo atau big caps.

Sementara itu, Direktur Riset dan Kepala Investasi Alternatif Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengaku pihaknya tak memiliki strategi khusus dalam menghadapi fenomena window dressing.

Pasalnya, dia menyebut Bahana TCW biasanya menerapkan strategi di awal kuartal dengan menghitung kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di tiap kuartal tersebut, begitu pula dengan kuartal terakhir tahun ini.

Adapun, jelang akhir tahun ini pihaknya cenderung overweight di sejumlah saham dari sektor yang diperkirakan akan memiliki kinerja moncer di tengah pemulihan ekonomi seperti perbankan, telekomunikasi, semen, CPO (crude plam oil), serta nikel.

“Ada juga beberapa [saham] kontraktor dan beberapa properti,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Selasa (24/11/2020)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG reksa dana window dressing
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top