Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Omnibus Law Bawa Yield Obligasi Indonesia Semakin Atraktif, Kok Bisa?

Dalam seminggu terakhir, level yield obligasi Indonesia telah menguat sebanyak 15,7 basis poin sehingga membuat yield kembali ke level sebelum pandemi virus corona.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  10:48 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen omnibus law berpotensi memperkuat tingkat imbal hasil (yield) obligasi Indonesia di sisa tahun 2020.

Data dari laman World Government Bonds pada Jumat (23/10/2020) menyatakan, tingkat imbal hasil (yield) obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun berada di posisi 6,706 persen. Dalam seminggu terakhir, level yield obligasi Indonesia telah menguat sebanyak 15,7 basis poin.

Catatan tersebut berarti tingkat imbal hasil obligasi negara telah kembali ke level sebelum pandemi virus corona terjadi di Indonesia. Pada April lalu, yield surat utang Indonesia sempat menyentuh level 8,2 persen.

Terkait hal tersebut, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pergerakan positif yield obligasi Indonesia ditopang oleh pengesahan UU Cipta Kerja atau omnibus law.

 Lolosnya peraturan tersebut dinilai memberi kepercayaan diri terhadap investor asing  seiring dengan beragam kemudahan yang ditawarkan dalam berinvestasi.

Di sisi lain, pasar obligasi Indonesia juga terbilang cukup baik ditengah pandemi. Hal ini seiring dengan kondisi fundamental ekonomi negara yang lebih terjaga dibandingkan negara lain serta rekam jejak pemerintah dalam penerbitan surat utang.

Menurutnya, para investor asing sebenarnya sudah cukup nyaman di pasar obligasi Indonesia. Hal tersebut terlihat dari tren positif hasil lelang surat utang negara (SUN) dalam beberapa pekan belakangan yang menunjukkan kenaikan angka penawaran.

“Keluarnya investor asing lebih disebabkan oleh gejolak pasar,” katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (23/10/2020).

Ramdhan melanjutkan, sentimen omnibus law ini juga berpeluang menjadi katalis positif untuk pasar surat utang Indonesia. Dengan beragam perampingan kebijakan dalam berinvestasi, investor akan semakin mudah masuk untuk menaruh uangnya, terutama di pasar surat berharga negara (SBN).

Kembali masuknya investor asing ke Indonesia, lanjut Ramdhan, akan berimbas pada kelanjutan tren penguatan yield obligasi. Menurutnya, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia berpotensi menyentuh kisaran 6,5 persen.

“Apabila jumlah investor asing yang masuk lebih banyak setelah omnibus law, yield obligasi bahkan bisa menyentuh 6,4 persen,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Omnibus Law
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top