Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelang Akhir Tahun, Pendapatan Philip Morris Turun, Bagaimana dengan HMSP?

Philip Morris International (PMI),  pemegang saham pengendali dari PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) mencetak penurunan pendapatan 3,8 persen dalam periode sembilan bulan 2020. Adapun HMSP tercatat mengalami penurunan pangsa pasar 3,5 persen.
Loog Philip Morris International./pmi.com
Loog Philip Morris International./pmi.com

Bisnis.com, JAKARTA - Philip Morris International (PMI),  pemegang saham pengendali dari PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) melansir kinerja pendapatan turun 3,8 persen menjadi US$21,25 miliar pada kuartal III/2020. Kinerja PMI juga mencakup performa penjualan rokok di Indonesia lewat Sampoerna.

Berdasarkan data Philip Morris, total volume penjualan rokok di Indonesia turun 9,4 persen menjadi 201,7 miliar batang pada periode Januari hingga September 2020. Dengan demikian, volume penjualan HMSP di dalam negeri juga ikut melandai.

Volume penjualan HMSP menurun signifikan 19,1 persen menjadi hanya 58,3 miliar batang rokok pada periode per September tahun 2020 dari 72,1 miliar batang rokok pada periode yang sama tahun 2019.

Hal ini menyebabkan market share atau pangsa pasar HMSP kembali melorot sebesar 3,5 persen menjadi 28,9 persen. Pada 2019, pangsa pasar HMSP masih bertengger di level 32,4 persen.

Berdasarkan segmen produknya, volume penjualan rokok HMSP kompak terkoreksi. Volume penjualan rokok jenama Dji Sam Soe turun 20,6 persen menjadi 18,34 miliar batang rokok hingga September tahun ini. 

Sementara, volume penjualan jenama Sampoerna A juga mengalami kontraksi hingga kuartal ketiga tahun ini sebesar 8,5 persen secara tahunan menjadi 23,8 miliar batang rokok. Penjualan Sampoerna A turun karena penurunan citra sebagai rokok premium  pergeseran preferensi konsumen ke produk yang tinggi kandungan nikotin dan tar untuk segmen full flavor.

Namun, volume penjualan rokok Sampoerna A dan Dji Sam Soe sebenarnya sudah beranjak pulih pada kuartal ketiga ini dengan kenaikan masing-masing sebesar 10,3 persen dan 9,9 persen secara kuartalan, mengingat sudah banyak orang kembali ke aktivitas keseharian mereka pasca pemberlakuan PSBB.

Secara garis besar, pasar Asia Selatan dan Asia Tenggara sendiri menyumbang pendapatan bersih sebesar US$3,21 miliar hingga akhir September tahun ini, turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$3,61 miliar.

Meski volume penjualannya menurun 16,9 persen dibandingkan dengan posisi year to date 2019, volume penjualan rokok dan produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco) PMI di Asia Selatan dan Asia Tenggara masih menjadi yang paling besar kedua setelah European Union dari total volume penjualan PMI di seluruh dunia.

Memasuki kuartal keempat tahun 2020, manajemen PMI belum mengekspektasikan pemulihan yang cepat karena kasus Covid-19 tetap tinggi sehingga menyebabkan pembatasan pergerakan orang dan juga proses penetapan harga jual eceran (HJE) minimum yang masih melambat.

Hal ini juga diperburuk oleh perbedaan harga jual eceran rokok kelas bawah yang jauh lebih murah sehingga manajemen berharap adanya perubahan pada aturan tarif cukai untuk mempersempit range harga yang sudah terlalu lebar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper