Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jelang Akhir Tahun, Pendapatan Philip Morris Turun, Bagaimana dengan HMSP?

Philip Morris International (PMI),  pemegang saham pengendali dari PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) mencetak penurunan pendapatan 3,8 persen dalam periode sembilan bulan 2020. Adapun HMSP tercatat mengalami penurunan pangsa pasar 3,5 persen.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  15:39 WIB
Loog Philip Morris International. - pmi.com
Loog Philip Morris International. - pmi.com

Bisnis.com, JAKARTA - Philip Morris International (PMI),  pemegang saham pengendali dari PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) melansir kinerja pendapatan turun 3,8 persen menjadi US$21,25 miliar pada kuartal III/2020. Kinerja PMI juga mencakup performa penjualan rokok di Indonesia lewat Sampoerna.

Berdasarkan data Philip Morris, total volume penjualan rokok di Indonesia turun 9,4 persen menjadi 201,7 miliar batang pada periode Januari hingga September 2020. Dengan demikian, volume penjualan HMSP di dalam negeri juga ikut melandai.

Volume penjualan HMSP menurun signifikan 19,1 persen menjadi hanya 58,3 miliar batang rokok pada periode per September tahun 2020 dari 72,1 miliar batang rokok pada periode yang sama tahun 2019.

Hal ini menyebabkan market share atau pangsa pasar HMSP kembali melorot sebesar 3,5 persen menjadi 28,9 persen. Pada 2019, pangsa pasar HMSP masih bertengger di level 32,4 persen.

Berdasarkan segmen produknya, volume penjualan rokok HMSP kompak terkoreksi. Volume penjualan rokok jenama Dji Sam Soe turun 20,6 persen menjadi 18,34 miliar batang rokok hingga September tahun ini. 

Sementara, volume penjualan jenama Sampoerna A juga mengalami kontraksi hingga kuartal ketiga tahun ini sebesar 8,5 persen secara tahunan menjadi 23,8 miliar batang rokok. Penjualan Sampoerna A turun karena penurunan citra sebagai rokok premium  pergeseran preferensi konsumen ke produk yang tinggi kandungan nikotin dan tar untuk segmen full flavor.

Namun, volume penjualan rokok Sampoerna A dan Dji Sam Soe sebenarnya sudah beranjak pulih pada kuartal ketiga ini dengan kenaikan masing-masing sebesar 10,3 persen dan 9,9 persen secara kuartalan, mengingat sudah banyak orang kembali ke aktivitas keseharian mereka pasca pemberlakuan PSBB.

Secara garis besar, pasar Asia Selatan dan Asia Tenggara sendiri menyumbang pendapatan bersih sebesar US$3,21 miliar hingga akhir September tahun ini, turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$3,61 miliar.

Meski volume penjualannya menurun 16,9 persen dibandingkan dengan posisi year to date 2019, volume penjualan rokok dan produk tembakau yang dipanaskan (heated tobacco) PMI di Asia Selatan dan Asia Tenggara masih menjadi yang paling besar kedua setelah European Union dari total volume penjualan PMI di seluruh dunia.

Memasuki kuartal keempat tahun 2020, manajemen PMI belum mengekspektasikan pemulihan yang cepat karena kasus Covid-19 tetap tinggi sehingga menyebabkan pembatasan pergerakan orang dan juga proses penetapan harga jual eceran (HJE) minimum yang masih melambat.

Hal ini juga diperburuk oleh perbedaan harga jual eceran rokok kelas bawah yang jauh lebih murah sehingga manajemen berharap adanya perubahan pada aturan tarif cukai untuk mempersempit range harga yang sudah terlalu lebar. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hm sampoerna philip morris
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top