Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bagaimana Nasib Penjualan HM Sampoerna (HMSP)? Tunggu Aturan Tarif Cukai Bulan Depan

Tarif cukai segmen rokok SKT dinilai akan mendukung penghematan biaya beban karyawan. Adapun, sekitar 70 persen tenaga kerja perseroan bergerak untuk segmen SKT yangmana perusahaan mempekerjakan 2.700 pegawai untuk setiap 1 miliar batang rokok yang diproduksi.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 21 September 2020  |  14:44 WIB
Aktivitas di salah satu pabrik PT HM Samporena Tbk tampak dari ketinggian - www.sampoerna.com
Aktivitas di salah satu pabrik PT HM Samporena Tbk tampak dari ketinggian - www.sampoerna.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harapan pemulihan penjualan bagi emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk, (HMSP) hingga tahun depan akan sangat bergantung pada penerapan tarif cukai dan implementasi harga jual eceran (HJE) di lapangan yang kemungkinan akan berlaku pada Oktober ini.

Dalam paparan publik perseroan pada Jumat (18/9/2020), HMSP menyoroti fokus pemerintah saat ini adalah dengan menurunkan keterjangkauan rokok dan menurunkan konsumsi tanpa harus mengorbankan pendapatan negara dari tarif cukai. RHB Sekuritas menilai tarif cukai baru pun akan menjadi kunci strategi dalam pembentukan harga produk HMSP ke depannya,

Analis RHB Sekuritas Michael Setjoadi beranggapan bahwa perbedaan antara tarif cukai produsen rokok tier 1 dan tier 2 meningkat menjadi 30 persen secara tahunan yang membuat tren penurunan penjualan.

“Manajemen juga berharap pemerintah akan mendukung industri segmen sigaret kretek tangan (SKT) dengan mempertahankan tarif cukai tetap pada 2021,” tulis Michael dikutip dari publikasi riset, Senin (21/9/2020).

Tarif cukai segmen rokok SKT dinilai akan mendukung penghematan biaya beban karyawan. Adapun, sekitar 70 persen tenaga kerja perseroan bergerak untuk segmen SKT yangmana perusahaan mempekerjakan 2.700 pegawai untuk setiap 1 miliar batang rokok yang diproduksi.

Hal ini berbanding terbalik dengan segmen sigaret kretek mesin (SKM) yang hanya mempekerjakan 21 pegawai untuk memproduksi 1 miliar batang rokok.

“Lonjakan permintaan rokok segmen SKT akan mendorong konsumsi daun tembakau yang akan menguntungkan petani kecil,” sambung Michael.  

HMSP juga baru-baru ini meluncurkan Sampoerna A 234 (eceran seharga Rp12.000 / 12 batang), kemasan rokok yang lebih ramping tetapi lebih panjang dengan harga 33 persen lebih rendah dari produk original Sampoerna 234, dan 11 persen lebih murah dari Sampoerna Kretek Hijau.

Selain ekonomis, produk Sampoerna A 234 juga memungkinkan waktu merokok lebih lama yakni 18 menit per batang.

Rencana penyederhanaan tarif cukai juga juga dianggap sebagai peluang HMSP untuk menangkap pasar para pesaingnya. HMSP mencatat bahwa perusahaan dengan total pendapatan lebih dari Rp20 triliun per tahun masih membayarkan pajak yang rendah untuk beberapa kategori.

“Untuk tetap kompetitif, hal ini akan diikuti dengan strategi pembagian harga seperti menawarkan tiga brand untuk setiap segmen rokok yang memungkinkan perusahaan untuk bertahan terhadap penerapan kenaikan cukai sambil mempertahankan pangsa pasarnya,” sambungnya.

Walhasil, Michael memberikan rating netral saham HMSP dengan target harga Rp1.950 mempertimbangkan price-to-earning ratio hingga 15,66 kali hingga akhir 2020 dan 12,61 kali hingga akhir 2021. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hmsp Cukai Rokok
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top