Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah China Tawarkan Surat Utang Senilai Rp88 Triliun Besok

Kementerian Keuangan China tengah memanggil investor-investor untuk obligasi Regulation S dan 144a dan kemungkinan akan menerbitkan obligasi US$6 miliar yang terdiri atas sejumlah tranche.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  12:20 WIB
Yuan - Bloomberg
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah China diperkirakan akan menerbitkan obligasi senilai US$6 miliar pada Rabu besok ditengah volatilitas pasar yang semakin tinggi menjelang pemilihan presiden di Amerika Serikat.

Dengan perhitungan kurs Jisdor hari ini di level Rp14.793 per dolar AS, maka obligasi US$6 miliar setara dengan Rp88,76 triliun.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (13/10/2020), Kementerian Keuangan China tengah memanggil investor-investor untuk obligasi Regulation S dan 144a dan kemungkinan akan menerbitkan obligasi US$6 miliar yang terdiri atas sejumlah tranche.

Adapun Pemerintah China akan menerbitkan obligasi dengan tenor tiga tahun, lima tahun, 10 tahun, dan 30 tahun. Penerbitan obligasi tersebut menyusul penjualan obligasi berdenominasi dolar AS dan Euro yang mencatatkan penawaran masing-masing senilai US$6 miliar dan 4 miliar Euro.

Penerbitan surat utang yang dilakukan pemerintah China pada pekan ini dilakukan seiring dengan ketidakpastian pasar yang mulai datang karena pemilu presiden AS November mendatang. Sejumlah analis memprediksi terjadinya kenaikan tingkat volatilitas pasar.

Macro Strategist DBS Bank Chang Wei Liang menyebutkan, dengan memajukan jadwal pelelangan, Kementerian Keuangan China akan menghindari risiko antusiasme pasar yang menurun akibat naiknya tingkat volatilitas pasar.

“Dengan kebijakan The Fed yang menetapkan suku bunga acuan mendekati 0 persen, China akan memiliki cost of funding yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019,” ujarnya.

Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar saham China akhirnya tembus lebih dari US$10 triliun untuk pertama kalinya sejak 2015, ketika rekor kehancuran menghapus setengah nilai pasar dalam beberapa bulan dan membebani jutaan investor dengan kerugian.

Pasar saham terbesar kedua di dunia telah menambahkan kapitalisasi hingga US$3,3 triliun sejak mencetak rekor terendah Maret lalu. Tambahan kapitalisasi ini dibantu oleh kebijakan Beijing untuk mendorong perdagangan saham, IPO dan penguatan yuan.

Pasar saham China sebenarnya telah mendekati pencapaian US$10 triliun sejak Juli, ketika pemerintah China bertindak untuk menjinakkan reli spekulatif yang tiba-tiba mendorong sejumlah kapitalisasi besar mendekati level tertinggi dalam 12 tahun.

Kapitalisasi pasar saham negara itu sekarang mencapai US$10,04 triliun dan sedikit di bawah level tertinggi sepanjang masa, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg per 12 Oktober 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi china
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top