Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Sentimen Pilpres AS dan Stimulus Dorong Bursa Asia Menguat

Sejauh ini, jajak pendapat yang dilakukan sejumlah lembaga menempatkan Joe Biden diatas kandidat petahana, Donald Trump dalam Pilpres AS 2020.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 08 Oktober 2020  |  14:23 WIB
Sentimen Pilpres AS dan Stimulus Dorong Bursa Asia Menguat
Bursa Asia - Bloomberg.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas bursa Asia ditutup menguat seiring dengan menguatnya kemungkinan Joe Biden memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat dan kemunculan paket stimulus baru.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (8/10/2020), indeks S&P/ASX 200 Australia memimpin reli positif di wilayah Asia setelah ditutup melesat 1,1 persen. Menyusul di belakangnya adalah indeks Topix Jepang yang naik 0,6 persen dan pasar Kospi Korea Selatan sebanyak 0,5 persen.

Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong terpantau terkoreksi 0,6 persen dan indeks berjangka S&P 500 naik 0,6 persen hingga pukul 07.03 waktu London, Inggris.

Ketua DPR AS dari Partai Demokrat Nancy Pelosi mengisyaratkan prospek paket bantuan terhadap tagihan bantuan maskapai penerbangan mandiri dalam percakapan dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin pada hari Rabu.

Pembahasan ini terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump membatalkan pembicaraan paket stimulus yang lebih luas hingga setelah pilpres di negara tersebut rampung.

Sejauh ini, jajak pendapat yang dilakukan sejumlah lembaga menempatkan Joe Biden diatas kandidat petahana, Donald Trump.

Pada hari ini, dua kandidat wakil presiden, Mike Pence dan Kamala Harris menghadiri debat yang membahas sejumlah topik seperti perekonomian dan respon AS terhadap pandemi virus corona.

“Ditengah sentimen debat dan stimulus fiskal, pertanyaannya saat ini adalah apakah pelaku pasar memberlakukan skenario “blue wave” dan apakah pasar optimistis hasil pemilu AS tidak akan dipermasalahkan oleh Trump,” jelas head of research Pepperstone Financial, Chris Weston.

Sementara itu, pertemuan Federal Open Market Committee pada pertengahan September lalu menunjukkan bank sentral AS, The Federal Reserve bersedia mengubah atau menambah program pembelian obligasi ke depannya.

Di sisi lain, sejumlah negara terus menghadapi kenaikan jumlah kasus positif virus corona. Prancis melaporkan jumlah kenaikan kasus psoitif terbesar, sementara angka infeksi di Italia melesat ke posisi tertinggi sejak April lalu.

Presiden AS Donald Trump mengatakan antibodi yang dibuat oleh Regeneron menjadi kunci dalam pemulihannya dari Covid-19. Hal tersebut membuat saham perusahaan itu melesat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia Pilpres as 2020
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top