Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lagi, IEA Pangkas Prospek Permintaan Minyak 2020

IEA memperkirakan permintaan minyak global turun 8,4 juta barel pada tahun ini, merosot 300.000 barel lebih dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 15 September 2020  |  18:59 WIB
Karyawan Pertamina melakukan pengecekan fasilitas kilang minyak. Istimewa -  Pertamina
Karyawan Pertamina melakukan pengecekan fasilitas kilang minyak. Istimewa - Pertamina

Bisnis.com, JAKARTA - International Energy Association atau IEA kembali memangkas perkiraan konsumsi bahan bakar minyak untuk sisa tahun ini seiring dengan terus bertambahnya kasus positif Covid-19 di banyak negara.

Dalam laporan bulanan terbarunya, lembaga yang berbasis di Paris itu, memangkas prospek permintaan minyak dunia menyusut lebih tajam untuk tahun ini dibandingkan dengan laporan terakhirnya.

IEA memperkirakan permintaan minyak global turun 8,4 juta barel pada tahun ini, merosot 300.000 barel lebih dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Pemangkasan proyeksi IEA itu pun telah terjadi selama dua bulan berturut-turut.

Sementara itu, untuk kuartal IV/2020 IEA memperkirakan permintaan minyak global akan menyusut sebesar 5 juta barel per hari, terkontraksi sekitar 600.000 barel lebih dalam daripada perkiraan bulan lalu.

“Meningkatnya kasus Covid-19 di Eropa, pembatasan baru, tingkat kerja dari rumah yang tinggi, telah membuat analisis pasar sangat menantang,” tulis IEA dalam laporan terbarunya, Selasa (15/9/2020).

IEA juga menjelaskan bahwa dengan pasokan yang terus meningkat dan pemulihan permintaan minyak tampak goyah telah membuat prospek pasar minyak global tampak bahkan lebih rapuh.

Di sisi lain, harga minyak berada di jalur kenaikannya didukung data ekonomi China yang menunjukkan sinyal positif melanjutkan tren pemulihan ekonomi Negeri Panda itu.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (15/9/2020) hingga pukul 18.36 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak Oktober 2020 di bursa Nymex bergerak menguat 1,56 persen ke level US$37,84 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent kontrak November 2020 di bursa ICE bergerak menguat 1,29 persen ke level US$40,12 per barel.

Adapun, mengutip data pemerintahan China, penjualan ritel naik untuk pertama kalinya tahun ini untuk periode Agustus. Selain itu, produksi industri naik 5,6 persen lebih besar daripada perkiraan pasar.

Tim Riset Monex Investindo Futures mengatakan bahwa harga minyak berpeluang sell di bawah level resistan US$37,9 per barel dengan target support US$36,65 per barel dan selanjutnya di US$36,2 per barel.

“Bila menembus level resistan US$37,90 harga minyak berpeluang buy dengan target US$38,4 per barel,” tulis Monex Investindo Futures seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (15/9/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak iea international energy agency
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top