Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pelemahan Dolar AS Jadi Momentum Penguatan Logam Dasar

Pamor dolar AS sebagai aset investasi aman di tengah banyak ketidakpastian pasar terus memudar. Harga logam dasar seperti tembaga dan timah menguat sejalan dengan terkoreksinya dolar AS sebesar 2,05 persen secara year-to-date (ytd).
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Juli 2020  |  15:40 WIB
Karyawati menghitung uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). - Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). - Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Logam dasar mendapatkan momentum untuk memperbaiki kinerja harganya tahun ini seiring dengan pelemahan dolar AS dan pulihnya ekonomi China, negara konsumen utama logam dasar dunia.

Analis Bloomberg Intelligence Ellen Ong mengatakan secara historikal, hubungan harga antara dolar AS dan logam dasar berbanding terbalik. Hal itu sudah terjadi selama 52 tahun terakhir.

Aluminium, timbal, dan tembaga adalah logam mulia yang memiliki korelasi berbanding terbalik kuat dengan dolar AS.

“Artinya, pelemahan dolar AS saat ini dapat mendorong harga-harga logam dasar untuk menguat lebih lanjut,” ujarnya seperti dikutip dari publikasi risetnya, Minggu (26/7/2020).

Untuk diketahui, dalam beberapa perdagangan terakhir, pamor dolar AS sebagai aset investasi aman di tengah banyak ketidakpastian pasar terus memudar.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (24/7), indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama melemah 0,27 persen ke level 94,435. Posisi tersebut adalah level terendah indeks dolar AS selama 6 bulan terakhir.

Hal itu kontras dengan pergerakan indeks dolar AS pada medio Maret 2020, kala greenback menjadi tempat pelarian para investor untuk menyelamatkan nilai aset dan sempat terbang ke posisi 102,817. Level itu merupakan posisi tertinggi indeks dolar AS sejak awal 2017.

Saat itu, investor berlomba-lomba melikuidasi semua aset investasinya dan memburu dolar AS. Bahkan, emas sebagai rekan aset investasi aman juga ikut dilikuidasi investor dan menjadikan greenback aset terfavorit.

Penurunan dolar AS saat ini mengikis kinerja tahun berjalannya sehingga saat ini tercatat terkoreksi 2,05 persen secara year-to-date (ytd).

Di sisi lain, sepanjang tahun berjalan 2020, beberapa harga logam dasar telah berhasil kembali bergerak di zona hijau. Sejak awal tahun, harga tembaga di bursa London telah menguat 6 persen, parkir di level US$6.415 per ton dan harga timah bergerak naik 3,71 persen ke level US$17.657 per ton.

Sementara itu, harga logam dasar lainnya masih berusaha keluar dari zona merah. Aluminium masih terkoreksi 6,02 persen ytd ke level US$1.700 per ton, seng turun 1,43 persen US$2.218 per ton, dan nikel turun 2,4 per sen ke level US$13.612,75 per ton.

Selain itu, harga logam dasar saat ini juga didukung sentimen pemulihan ekonomi China, sebagai konsumen utama komoditas dunia, yang dapat meningkatkan permintaan sehingga harga makin terdorong untuk menguat lebih lanjut.

Meski dunia masih bergulat dengan dampak Covid-19, ekonomi China mampu rebound dengan berekspansi 3,2 persen pada kuartal II/2020 dari tahun sebelumnya. Tak hanya memutar balik kontraksi sebesar 6,8 persen pada kuartal I/2020, capaian tersebut lebih baik dari dari ekspektasi ekonom.

Para analis kini mempertimbangkan keberlanjutan momentum rebound yang kuat dan bagaimana kebijakan China dapat berkembang pada paruh kedua tahun ini untuk menjaga ekonominya dalam jalur pemulihan yang stabil.

Perbaikan permintaan China tercermin dari impor konsentrat tembaga dari AS yang mencapai level tertinggi pada Juni 2020 sejak September 2018, yaitu sebesar 30.734 ton. Angka ini setara dengan 4,68 persen dari total impor konsentrat tembaga Negeri Panda periode Juni 2020, yang sebesar 656.483 ton.

Pelemahan dolar AS juga dijadikan momentum bagi harga emas untuk bergerak menguat dengan ciamik. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (24/7), harga emas pasar spot naik 0,77 persen ke level US$1.902,02 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak Agustus 2020 di bursa Comex berhasil naik 0,41 persen ke level US$1.925,2 per troy ounce. Kedua level itu merupakan posisi tertinggi harga emas sejak 2011 dan makin dekat untuk membuat rekor harga baru sepanjang sejarah, yaitu di atas level US$1.911 per troy ounce.

Tidak hanya itu, harga emas dalam negeri cetakan PT Aneka Tambang Tbk. atau emas Antam juga menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah. Pada Minggu (26/7), harga emas cetakan 1 gram berada di posisi Rp986.000 per gram.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan sentimen pasar saat ini, makin mendukung harga emas untuk menguat. Faktor utama katalis positif emas adalah mega stimulus yang disiapkan oleh Pemerintah AS.

“Emas masih sangat potensial lanjut menguat,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (24/7).

Selanjutnya, emas mengejar level US$2.000 per troy ounce, yaitu level tertinggi emas sepanjang sejarah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as logam ekonomi china
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top