Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wall Street Finis di Zona Hijau, Nasdaq Perbarui Rekor

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,78 persen atau 24,62 poin ke level 3.169,94, setelah berakhir melorot sekitar 1 persen pada perdagangan Selasa (7/7/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  05:37 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat berhasil berakhir di zona hijau pada perdagangan Rabu (8/7/2020), di tengah memanasnya ketegangan antara Washington dan Beijing.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,78 persen atau 24,62 poin ke level 3.169,94, setelah berakhir melorot sekitar 1 persen pada perdagangan Selasa (7/7/2020).

Sejalan dengan rebound S&P, indeks Dow Jones Industrial Average menanjak 0,68 persen atau 177,10 poin ke level 26.067,18 dan indeks Nasdaq Composite berakhir naik tajam 1,44 persen atau 148,61 poin ke posisi 10.492,50.

Indeks S&P 500 kembali mencolek level tertingginya dalam satu bulan, sementara kenaikan dalam saham-saham berkapitalisasi besar seperti Apple Inc. dan Amazon.com Inc. membawa Nasdaq Composite memperbarui rekornya.

Di sisi lain, saham HSBC Holdings Plc merosot menyusul laporan bahwa beberapa penasihat Presiden Donald Trump mengusulkan langkah destabilisasi pasak mata uang Hong Kong sebagai cara untuk menghukum China. Pelemahan saham bank mendorong bursa Eropa melemah.

Analis memperdebatkan apa yang akan terjadi selanjutnya untuk ekonomi AS ketika banyak negara bagian mengizinkan bisnis untuk dibuka kembali.

Namun, dengan banyaknya orang di dunia berdiam di rumah masing-masing demi menghindari infeksi virus Corona (Covid-19), para investor telah memburu saham-saham teknologi.

Pola ini muncul lagi pada perdagangan Rabu, dengan sektor yang sensitif terhadap isu Covid-19 seperti maskapai penerbangan melemah.

“Meski pasar sebagian besar mencerminkan optimisme investor, situasi Covid tampaknya berevolusi dari jam ke jam dan kita juga telah melihat kembali ketegangan perdagangan, jadi ada banyak yang harus dicerna,” tutur Direktur pelaksana strategi investasi di E*Trade Financial Mike Loewengart, dilansir dari Bloomberg.

Ketegangan antara AS dan China meningkat setelah Beijing menegaskan kekuatan baru yang luas untuk mengendalikan oposisi di Hong Kong.

Perkembangan ini merontokkan harapan bahwa dua ekonomi terbesar dunia tersebut akan memperbaiki hubungan yang telah keruh oleh sejumlah isu termasuk perselisihan perdagangan.

Sementara itu, sinyal-sinyal yang berkaitan dengan virus Corona tampak beragam dalam beberapa hari dan pekan terakhir. Jumlah kasus terkonfirmasi di AS melampaui 3 juta hingga Rabu, dengan data menunjukkan peningkatan 2 persen dalam kasus secara nasional. Namun, tingkat kematian tetap rendah.

“Kita menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dan itu tidak begitu jelas. Ada banyak tanda tanya tentang bagaimana ini akan terjadi pada paruh kedua,” ungkap Kepala ahli strategi untuk Schwab Center for Financial Research Kathy Jones.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as bursa as wall street
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top