Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS dan China Gonjang-ganjing, Mengapa Wall Street Rebound?

Bursa saham Amerika Serikat berhasil rebound ke zona hijau dan menguat pada awal perdagangan hari ini, Rabu (8/7/2020), di tengah tensi terbaru antara Washington dan Beijing.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Juli 2020  |  21:21 WIB
Wall Street. - Bloomberg
Wall Street. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat berhasil rebound ke zona hijau dan menguat pada awal perdagangan hari ini, Rabu (8/7/2020), di tengah tensi terbaru antara Washington dan Beijing.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks saham acuan S&P 500 naik 0,26 persen atau 8,14 poin ke level 3.153,46 pukul 8.47 waktu New York, setelah ditutup turun lebih dari 1 persen pada Selasa (7/7/2020).

Sejalan dengan rebound S&P, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,77 persen atau 198,93 poin ke posisi 26.089,11, sedangkan indeks Nasdaq Composite menanjak 1,02 persen atau 105,34 poin ke level 10.449,23.

Saham perusahaan teknologi mendorong penguatan pada indeks S&P 500. Di sisi lain, saham HSBC Holdings Plc. merosot setelah beberapa penasihat Presiden Donald Trump dikabarkan mengusulkan langkah untuk destabilisasi pasak mata uang Hong Kong sebagai cara untuk menghukum China.

Berbanding terbalik dengan Wall Street, indeks Stoxx Europe 600 melemah 0,7 persen.

Pasar saham pada dasarnya telah mengambil jeda setelah S&P 500 naik ke level tertinggi satu bulan pada Senin (6/7/2020). Investor memperdebatkan seberapa cepat ekonomi akan dapat pulih ketika banyak negara bagian AS memperkenankan bisnis berjalan kembali setelah berbulan-bulan terkunci.

Menurut survei untuk CreditCards.com, banyak warga Amerika berencana tidak membuat banyak pengeluaran untuk kegiatan umum seperti menonton film atau mengunjungi bar.

“Bukan hal yang aneh bagi saham untuk mengambil jeda pada titik ini,” ujar manajer portofolio di Aviva Investors Susan Schmidt, dilansir dari Bloomberg.

“Kita dapat melihat diri kita berada di kisaran perdagangan sempit dalam beberapa pekan ke depan sebelum musim rilis laporan kinerja korporasi AS,” tambahnya.

Sementara itu, ketegangan antara AS dan China telah meningkat setelah Beijing menegaskan kekuatan baru yang luas untuk mengendalikan oposisi di Hong Kong.

Perkembangan ini merontokkan harapan bahwa dua ekonomi terbesar dunia tersebut akan memperbaiki hubungan yang telah keruh oleh sejumlah isu termasuk perselisihan perdagangan.

Di pasar mata uang, Bloomberg Dollar Spot Index turun 0,1 persen dan nilai tukar euro naik 0,2 persen terhadap dolar AS menjadi US$1,1296.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china bursa as Donald Trump
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top