Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emiten Pemilik Perusahaan Pengolahan Padi Ini Berisiko Didepak BEI

Magna Investama Mandiri telah disuspensi di seluruh pasar saham selama 6 bulan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  18:45 WIB
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia mengumumkan risiko delisting perusahaan tercatat PT Magna Investama Mandiri Tbk. sejalan dengan suspensi saham perseroan dalam 6 bulan terakhir.

Dalam keterbukaan informasi Kamis (9/7/2020), Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa Magna Investama Mandiri telah disuspensi di seluruh pasar saham selama 6 bulan. Adapun, masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 8 Januari 2022.

“Bursa meminta kepada publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh perseroan,” tulis Manajemen BEI melalui keterbukaan informasi, Kamis (9/7/2020).

Bursa telah memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek perseroan di seluruh pasar sejak sesi pertama perdagangan Rabu (8/1/2020).

Keputusan itu sehubungan informasi bahwa emiten berkode saham MGNA itu telah melakukan penghentian kegiatan operasional pabrik milik entitas anak efektif sejak 30 Desember 2019 sampai waktu yang akan ditentukan lebih lanjut.

Dalam laporan tahunan 2019, MGNA merupakan pemilik 94,10 persen saham PT Padi Unggul Indonesia. Entitas itu merupakan perusahaan agribisnis swasta yang berlokasi di Desa Karangtengah Prangdon, Ngawi, Jawa Timur, dengan status penanaman modal asing (PMA).

Dilansir melalui laman resmi PUI, tujuan pendirian perusahaan adalah membangun serta mengembangkan industri pengolahan padi modern dan terpadu. Entitas itu juga membangun kemitraan dengan kelompok tani dengan nantinya akan membeli dan mengkonsumsi gabah kering panen (GKP) dari kelompok tani di daerah sekitar.

BEI melaporkan Nobhill Capital Corp menjadi pemegang saham 17,94 perseroan per 29 Mei 2020. Sutan Agri Resources Pte juga mengempit kepemilikan 16,95 persen bersama dengan PT GMT Investama 7,03 persen dan Reksa Dana Pacific Equity 5,98 persen.

Adapun, porsi kepemilikan masyarakat sebanyak 52,10 persen atau 522.580.977 lembar saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia padi delisting
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top