Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hadapi Tekanan Pandemi, Begini Strategi Garuda Indonesia (GIAA)

Garuda Indonesia telah menempuh berbagai jurus, mulai dari sisi operasional hingga aspek keuangan guna menghadapi dampak pandemi Covid-19. Sejauh ini, hingga kuartal I/2020, kinerja Garuda Indonesia babak belur karena menderita kerugian.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  12:40 WIB
Aktivitas penerbangan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (18/12/2018). - ANTARA/Yulius Satria Wijaya
Aktivitas penerbangan di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (18/12/2018). - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 menjadi momok bagi industri penerbangan di seluruh dunia termasuk Indonesia. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. berada dalam tekanan. Lantas, seperti apa strategi perusahaan untuk bertahan?

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan bahwa pandemi Covid-19 menjadi tantangan terbesar bagi industri penerbangan. Dia menilai perlu penyesuaian lebih lanjut supaya proses pemulihan bisa dipercepat.

“Para analis industri penerbangan tampaknya sepakat bahwa pemulihannya hanya akan kembali pada akhir 2022. Jadi, kami mesti berhadapan dengan 2,5 tahun lagi untuk situasinya membalik seperti sebelum Covid-19. Ini tantangan yang paling besar,” ujarnya, Rabu (1/7/2020).

Gambaran dampak virus corona bisa terlihat pada kinerja perusahaan pada kuartal I/2020. Padahal, virus corona baru mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan Maret 2020 atau akhir kuartal I/2020.

Pada periode tersebut, perseroan membukukan pendapatan US$768,12 juta atau turun 30,14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan amblas karena kontribusi utama pendapatan yaitu penerbangan berjadwal turun 29,23 persen secara tahunan menjadi US$654,52 juta.

Profitabilitas perseroan kian tertekan lantaran beban keuangan meningkat tajam dari US$20,69 juta menjadi US$150,65 juta. Walhasil, rugi bersih perseroan mencapai US$120,16 juta, berbalik dari posisi untung US$20,48 juta pada kuartal I/2019.

Dalam laporan keuangan kuartal I/2020, perseroan menyebutkan telah melakukan sejumlah upaya untuk menghadapi berbagai tantangan yang timbul dari pandemi Covid-19.

Strategi utama perseroan adalah mengoptimalisasi pendapatan penumpang berjadwal, baik rute domestik maupun internasional. Hal ini juga diiringi dengan optimalisasi produksi dan strategi dynamic pricing.

Optimalisasi pendapatan juga dilakukan melalui penerbangan kargo berjadwal. Upaya ini dilakukan dengan melakukan penerbangan cargo only selama pandemi untuk mengkompensasi penurunan pendapatan.

Perseroan juga menyatakan akan melakukan efisiensi dengan menutup rute yang tidak menghasilkan profit. Selain itu, perseroan melakukan rightsizing untuk meningkatkan margin pendapatan dari rute-rute potensial.

Garuda Indonesia juga menyatakan akan meningkatkan pendapatan dari penerbangan charter yang berkelanjutan. Hal ini akan melibatkan kerja sama kemitraan jangka pendek dan jangka panjang.

Di lua optimalisasi operasi, perseroan juga melakukan sejumlah langkah untuk menjaga likuiditas. Perseroan menyatakan akan mengganti cadangan pemeliharaan dengan jaminan pembayaran dari perbankan. Selain itu, perseroan akan tetap aktif mencari alternatif pendanaan guna melunasi kewajiban yang akan jatuh tempo.

Upaya lain yang juga dilakukan adalah sinergi perseroan secara grup melalui keselarasan rute dan penetapan jadwal penerbangan. Hal ini akan dilakukan sesuai dengan permintaan pasar.

Terakhir, perseroan masih akan mengupayakan negosiasi dengan pihak lessor atau penyedia penyewaan pesawat. Negosiasi meliputi upaya penurunan biaya sewa, penundaan kedatangan pesawat baru, dan opsi early redelivery pesawat.

Upaya-upaya tersebut sudah mulai membuahkan hasil, tercermin dari posisi utang bank perseroan yang menurun pada kuartal I/2020. Selain itu, perseroan juga mendapatkan relaksasi jatuh tempo atas utang obligasi senilai US$500 juta.

Namun, dari sisi negosiasi dengan lessor, tak seluruhnya berbuah manis. Perseroan justru menghadapi sejumlah tuntutan wanprestasi dari lessor di luar negeri, walaupun perseroan juga mengklaim telah berhasil mencapai kesepakatan dengan sejumlah lessor lain.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top