Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Venezuela Berpotensi Lepas Gelar sebagai Negara Minyak

Pengiriman minyak mentah Venezuela merosot 45 persen menjadi hanya 167.222 barel per hari pada pekan kedua Juni 2020
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  17:40 WIB
Logo perusahaan perminyakan milik negara Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), terlihat di stasiun gas di Caracas. - Reuters/Andres Martinez
Logo perusahaan perminyakan milik negara Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), terlihat di stasiun gas di Caracas. - Reuters/Andres Martinez

Bisnis.com, JAKARTA - Venezuela tampaknya akan segera melepas gelarnya sebagai negara minyak seiring dengan pendapatan negara dari ekspor minyak terus tergerus.

Berdasarkan data Bloomberg, pengiriman minyak mentah Venezuela merosot menjadi hanya 167.222 barel per hari pada pekan kedua Juni 2020. Jumlah itu turun 45 persen dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya.

Adapun, pengiriman minyak mentah periode Mei 2020 oleh negara yang tengah dipimpin oleh Nicolas Maduro itu merupakan jumlah ekspor terendah sejak 73 tahun terakhir.

Penurunan ekspor minyak Juni pun diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan Bloomberg melacak hanya ada satu kapal tanker minyak yang siap dikirim di sisa bulan ini.

Padahal, ekspor minyak mentah menjadi kontributor utama pendapatan Venezuela selama ini dan pernah menyumbang 95 persen dari arus masuk mata uang asing ke negara itu. Venezuela pun dikenal sebagai rumah dari cadangan minyak terbesar dunia.

Konsultan IHS Markit London Diego Moya-Ocampos mengatakan bahwa tanpa minyak, keberlangsungan Venezuela akan sangat sulit dan ini menjadi tantangan berat bagi Maduro.

"Maduro harus lebih mengandalkan penambangan emas dan kegiatan ilegal seperti perdagangan narkoba untuk membayar aparat keamanannya,” ujar Ocampos seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (22/6/2020).

Untuk diketahui, penurunan ekspor terjadi disebabkan oleh sanksi AS yang terus menargetkan Venezuela sebagai buntut penolakan terhadap pemerintahan Nicolas Maduro.

AS dan puluhan negara lainnya mendukung dan mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai Presiden Venezuela terpilih, tetapi Nicolas Maduro tetap bersikeras mempertahankan kekuasaannya meskipun mendapatkan sanksi dari banyak pihak.

Pemerintah AS memberikan sanksi administratif kepada Venezuela agar tidak dapat menjual minyak mentahnya ke penjual asing. Akibatnya, tangki penyimpanan minyak di Venezuela hampir penuh sehingga memaksa operator untuk menutup produksi ke tingkat paling rendah sejak Perang Dunia Kedua.

Tercatat, rata-rata stok minyak berada di kisaran 15,2 juta barel pada Juni, naik 43 persen dibandingkan dengan stok pada Januari.

Saat ini dengan sanksi tersebut, Venezuela mulai mengandalkan pengiriman ke sekutunya seperti Kuba, dan untuk kilang dari perusahaan Italia Eni SpA dan Repsol SA dari Spanyol.

Namun, baik perusahaan Eni SpA dan Repsol mengatakan, pengiriman minyak dari Venezuela hanya sebagai pembayaran untuk melunasi hutang lama kepada Petroleos de Venezuela SA atau PDVSA, perusahaan minyak milik negara Venezuela.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak minyak venezuela

Sumber : bloomberg

Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top