Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Digencet Sanksi AS, Produksi Minyak Venezuela Cetak Rekor Terendah

Sanksi AS dan ancaman sanksi susulan dari negara itu membuat produksi minyak Venezuela tertekan hebat.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 14 Juni 2020  |  07:50 WIB
Logo perusahaan perminyakan milik negara Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), terlihat di stasiun gas di Caracas. - Reuters/Andres Martinez
Logo perusahaan perminyakan milik negara Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), terlihat di stasiun gas di Caracas. - Reuters/Andres Martinez

Bisnis.com, JAKARTA - Angka produksi minyak di Venezuela mencatatkan rekor terendah dalam 75 tahun seiring dengan sanksi yang diberlakukan AS. Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak mentah terbanyak di dunia.

Dilansir Bloomberg, Minggu (14/6/2020), perusahaan minyak milik pemerintah Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA) menurunkan estimasi produksi minyaknya pada rabu lalu ke angka 374 ribu barel per hari. Jumlah ini merupakan produksi terendah yang pernah dilakukan sejak tahun 1945.

Perkiraan produksi PDVSA juga lebih rendah 57 persen dari rencana produksi awal. Estimasi tersebut kontras dengan perkiraan awal yang diberikan oleh OPEC pada Mei lalu sebesar 550 ribu barel per hari.

Produksi di wilayah Orinoco Belt yang sebelumnya menjadi daerah paling strategis dalam pengeboran minyak juga diperkirakan akan mengalami penurunan hingga 79 persen dari angka sebelumnya.

Produksi minyak light crude di Maracaibo basin juga telah mengalami penurunan sebesar 45 persen.

Penurunan produksi ini disebabkan sanksi AS kepada Venezuela yang membuat pembeli minyak kabur dan berpindah ke negara lain. Hal ini menyebabkan terjadinya kelebihan persediaan minyak yang berujung pada penutupan kilang produksi.

Selain itu, anjloknya produksi minyak di Venezuela terjadi di tengah bayang-bayang sanksi tambahan dari AS. Kementerian Keuangan AS mengancam akan melarang 50 perusahaan pengangkut mengambil meinyak dari Venezuela, termasuk perusahaan yang dimiliki PDVSA yang berdagang dengan Kuba.

Penurunan produksi minyak juga berdampak terhadap perusahaan joint venture yang dimiliki PDVSA. Petrozamora, usaha yang dimiliki bersama dengan GBP Global Resources NV harus menutup ladang minyaknya di Bachaqueo dan Lagunillas pada minggu ini karena minimnya kapal yang dapat mengangkut hasil produksi.

Hingga saat ini jumlah produksi Petrozamora berada di angka 28 ribu barel per hari, jauh di bawah rata-rata produksi setahun lalu sebanyak 94.700 barel per hari. Sementara itu, perusahaan joint venture yang dijalankan dengan Chevron Corp., Boscan telah berhenti beroperasi sejak awal Mei lalu.

Perusahaan joint-venture Chevron-PDVSA yang beroperasi di wilayah Orinoco Belt, Petropiar, juga tidak luput dari penurunan produksi. Angka produksi minyak perusahaan tersebut jeblok 70 persen sejak Januari 2020, yakni sebesar 30 ribu barel per hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat venezuela
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top