Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Reli Rupiah Diprediksi Tidak Bertahan Lama

Jumlah kasus Covid-19 baru yang terus bertambah ditambah dengan penurunan suku bunga acuan bank sentral dinilai menjadi pemicu pelemahan rupiah.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  08:29 WIB
Karyawati menghitung uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Reli nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan terhenti  setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan dan memberi sinyal perlambatan ekonomi.

Posisi Indonesia yang kini sudah menyalip Singapura sebagai episentrum Covid-19 di Asia Tenggara, ditambah dengan penurunan suku bunga acuan membuat analis Rabobank dan HSBC Holdings Plc memprediksi mata uang garuda akan melemah pada semester kedua 2020.

Dilansir dari Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah melonjak 15 di kuartal II/2020 yang mana bank sentral banyak memberikan bantuan selama periode tersebut. Namun, setelah rupiah kembali menguat, BI sepertinya mulai mengambil ancang-ancang yang akhirnya menekan rupiah secara perlahan. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan mempertahankan suku bunga acuan pada bulan Mei sejatinya mempertimbangkan stabilitas nilai tukar.

Sementara itu, saat BI menurunkan suku bunga acuan pada hari Kamis (18/6/2020) menjadi 4,25 persen, Perry memberikan catatan bahwa rupiah tidak lagi tertekan meskipun nilai tukarnya belum mampu stabil. 

“Pemotongan suku bunga terbaru Bank Indonesia jelas mencerminkan stabilisasi sentimen risiko global dan kembalinya aliran modal ke Indonesia secara bertahap yang akhirnya memperkuat rupiah,” kata Joseph Incalcaterra, kepala ekonom Asean HSBC di Hong Kong.

Namun, HSBC sebenarnya mengharapkan penurunan suku bunga 50 basis poin lagi hingga akhir kuartal pertama tahun depan dengan proyeksi bahwa rupiah bisa jadi melemah ke level Rp15.200 per dolar AS pada akhir 2020.

Padahal, BI memperkirakan pada tahun 2020, nilai tukar Garuda akan berada di kisaran Rp14.000-Rp14.600. Adapun, rupiah ditutup pada level Rp14.100 pada Jumat (19/6/2020). 

Risiko Covid-19 gelombang kedua membuat Rabobank memproyeksi rupiah akan melemah ke level Rp15.237 pada akhir kuartal ketiga mendatang. 

"Kenyataan lambannya pemulihan ekonomi akan terlihat saat pasar mulai memantau ekonomi riil," kata Wouter van Eijkelenburg, ekonom Asean di Rabobank Belanda.

Pada Kamis (18/6/2020), BI sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berada di kisaran 0,9 persen -1,9 persen, dari sebelumnya 2,3 persen, dikarenakan suku bunga yang lebih rendah. 

Pembelian obligasi Indonesia oleh asing telah mencapai sekitar US$1 miliar pada kuartal ini, diikuti dengan arus keluar sebesar US$8,6 miliar dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Kendati demikian, Wellian Wiranto, ekonom dari Overseas-Chinese Banking Corp. mengatakan bahwa bank sentral kemungkinan besar tidak akan memangkas suku bunga lebih rendah dari 4 persen. 

Hal ini mengingat negara perlu mempertahankan imbal hasil obligasi yang cukup tinggi untuk menarik aliran dana dari luar negeri, yang pada akhirnya juga mendukung rupiah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah bank indonesia dolar as
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top