Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Delapan Sektor Tertekan, IHSG Parkir di Zona Merah

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG ditutup melemah 1,31 atau 64,02 poin ke level 4.816,34 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Jumat (29/5/2020). Bisnis/Dedi Gunawan
Pengunjung berjalan di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Jakarta, Jumat (29/5/2020). Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin dalam tergelincir di zona merah pada akhir perdagangan hari ini, Senin (15/6/2020).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG ditutup melemah 1,31 atau 64,02 poin ke level 4.816,34 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (12/6/2020), IHSG mampu rebound dan berakhir di level 4.880,36 dengan kenaikan 0,53 persen atau 25,6 poin, setelah tertekan di zona merah tiga hari berturut-turut sebelumnya.

Sebelum berbalik turun, indeks sempat melanjutkan penguatannya pada Senin dimulai dengan naik hanya 0,04 persen atau 1,86 poin ke level 4.882,22 pukul 9.00 WIB. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam kisaran 4.809,62-4.918,06.

Sebanyak 8 dari 10 sektor menetap di zona merah, didorong sektor finansial yang melemah 2,77 persen dan pertanianyang turun 2,01 persen. Sementara itu, sektor barang konsumsi dan infrastruktur menguat 0,23 persen dan 0,33 persen.

Dari 693 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 158 saham menguat, 288 saham melemah, dan 247 saham stagnan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor Mei 2020 mencapai US$10,53 miliar, turun 28,95 persen secara year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang senilai US$14,83 miliar.

Secara bulanan, realisasi ekspor pada Mei menunjukkan penurunan 13,40 persen dari posisi April 2020, yang sebesar US$12,16 miliar.

Data BPS menunjukkan penurunan ekspor secara tahunan tersebut disebabkan oleh turunnya ekspor migas maupun nonmigas ke posisi yang cukup dalam. Sementara itu secara bulanan, ekspor migas mengalami kenaikan walaupun tidak dapat mengompensasi turunnya ekspor nonmigas

"Baik secara bulanan maupun tahunan, ekspor nonmigas padaa Mei mengalami penurunan yang signifikan," papar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers yang disiarkan secara langsung melalui YouTube resmi BPS, Senin (15/6/2020).

Sementara itu, realisasi impor sepanjang Mei 2020 dilaporkan mengalami penurunan 42,20 persen secara tahunan menjadi US$8,44 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang senilai US$14,61 miliar.

Secara bulanan month-on-month (mom), impor pada Mei 2020 terjadi penurunan 32,65 persen dari posisi April 2020, yakni dari sebesar US$12,54 miliar menjadi US$8,44 miliar.

"Penurunan impor yang sangat besar terjadi dari sisi migas, sementara nonmigas juga turun cukup dalam," lanjut Suhariyanto.

IHSG melemah di saat bursa saham lainnya di Asia juga tertekan. Indeks Topix dan Nikkei 225 melemah masing-masing 2,54 persen dan 3,47 persen, sedangkan indeks Kospi melemah 4,76 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 melemah masing-masing 1,02 persen dan 1,2 persen, sedangkan indeks Hang Seng melemah 2,16 persen.

Dilansir dari Bloomberg, bursa Asia melemah karena kekhawatiran gelombang kedua virus menurunkan ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi yang cepat.

Global Head of Foreign-Exchange Strategy di HSBC Holdings Plc David Bloom mengatakan pemulihan ekonomi dunia memperlihatkan tren berbentuk U-shaped yang cenderung lambat dan tidak merata.

"Investor cenderung bersikap menghindari aset berisiko karena realitas pemulihan U-shaped ini,” ungkap David, seperti dikutip Bloomberg.

Rilis data ekonomi China pada hari ini juga memperlihatkan kenaikan di bawah ekspektasi sejumlah ekonom. Hal tersebut juga ditambah dengan penurunan angka penjualan ritel dan kenaikan output industri yang dibawah perkiraan awal.

Terkait virus corona, lebih dari 20 negara bagian AS mencatat peningkatan kasus baru di atas rata-rata. Sementara itu, Tokyo melaporkan lonjakan akhir pekan lalu dan wabah baru di Beijing mendorong pemerintah untuk menutup pasar.

"Risiko global saat ini adalah adanya gelombang kedua kasus virus corona. Sekarang adalah saatnya investor memiliki obligasi dengan tenor panjang dalam portofolio mereka," ujar Chief Investment Officer for Core Investments di AXA Investment Managers Chris Iggo.

Indeks Sektoral Penggerak IHSG
SektorPerubahan (persen)

Finansial

-2,77

Pertanian

-2,01

Tambang

-1,76

Industri dasar

-1,26

Properti

-1,11

Aneka industri

-1,09

Perdagangan

-0,82

Manufaktur

-0,41

Barang konsumsi

0,23

infrastruktur

0,33

Sumber: Bursa Efek Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper