Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dolar Rebound, Bursa Saham AS Melemah di Awal Dagang

Bursa saham Amerika Serikat melemah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2020), di tengah kekhawatiran bahwa penguatan aset berisiko telah jauh melampaui fakta soal prospek ekonomi.
Wall Street./Bloomberg
Wall Street./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat melemah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (9/6/2020), di tengah kekhawatiran bahwa penguatan aset berisiko telah jauh melampaui fakta soal prospek ekonomi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks saham acuan S&P 500 melemah 0,93 persen atau 29,99 poin ke level 3.202,40 pada pukul 08.42 pagi waktu New York.

Adapun indeks Dow Jones Industrial Average melorot 1,24 persen atau 340,85 poin ke posisi 27.231,59 dan indeks Nasdaq Composite turun 0,23 persen atau 22,66 poin ke level 9.902,08.

Sebaliknya, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1 persen, kenaikan pertama dalam sembilan sesi perdagangan terakhir. Sementara itu, mata uang safe haven yen Jepang terapresiasi 0,5 persen ke level 107,92 per dolar AS.

Setelah saham global membukukan rekor penguatan yang menambah nilai sebesar US$21 triliun ke pasar saham global, indikator teknis menunjukkan penurunan harga yang melampaui batas waktunya.

Sentimen terhadap saham AS beralih ke kepercayaan ekstrem dari kekhawatiran yang sama ekstremnya dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Hampir 300 saham di S&P 500 kini diperdagangkan dengan harga yang melampaui target konsensus yang ditetapkan oleh analis masing-masing perusahaan, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg. Ini menjadi perubahan cepat dari akhir Maret, ketika hanya dua saham dengan harga lebih tinggi dari perkiraan analis.

“Masuk akal untuk mengalami kemunduran dari level saat ini sampai kita mendapatkan kejelasan tentang virus [Covid-19] dan ekonomi,” ujar Kepala Ekuitas di GenTrust Olivier Sarfati.

Di sisi lain, dengan saham global rebound ke level yang dialami pada Februari, kekhawatiran bahwa rebound ini telah jauh melampaui fakta soal pemulihan ekonomi terus membebani investor.

Bank Dunia memperkirakan produk domestik bruto (PDB) global akan terkontraksi hingga -5,2 persen tahun ini, angka resesi terdalam sejak Perang Dunia II. Akibatnya, pendapatan dapat berkurang dan jutaan orang dapat terjun ke dalam jurang kemiskinan di banyak negara.

“Ada banyak hal tidak diketahui yang sedang kita hadapi meskipun faktanya normalisasi kegiatan ekonomi masih berjalan. Masih ada banyak faktor yang tidak diketahui,” ujar Senior Fund Manager di Value Partners, Frank Tsui, dilansir dari Bloomberg.

Investor kini menantikan pertemuan Federal Reserve untuk apakah para pembuat kebijakan bank sentral AS ini kemungkinan akan berkomitmen kembali untuk menggunakan berbagai alat yang dimiliki demi mendukung ekonomi AS.

Dalam pertemuan kebijakan moneter yang berakhir Rabu (10/6/2020) waktu setempat, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran level nol persen.

Sejalan dengan pergerakan bursa AS, indeks Stoxx Europe 600 merosot 1,3 persen dan indeks MSCI Asia Pacific Index naik 0,5 persen.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,5 persen ke level US$37,98 per barel dan harga emas di pasar spot naik 1 persen ke level US$1.722,30 per troy ounce.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper