Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Tergelincir Didorong Perseteruan OPEC+

Harga minyak di bursa berjangka New York mengalami penurunan sekitar 2 persen menjadi di bawah US$37 per barel setelah ditutup pada level tertinggi sejak 6 Maret 2020.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  15:01 WIB
Logo Negara-negara Pengeskpor Minyak (OPEC) di kantor pusat di Vienna, 10 Jun 2014. - reuters
Logo Negara-negara Pengeskpor Minyak (OPEC) di kantor pusat di Vienna, 10 Jun 2014. - reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak kembali turun dari level tertinggi dalam tiga bulan karena OPEC+ terancam berseteru tentang kepatuhan terhadap kesepakatan pengurangan produksi, sementara data AS meragukan kekuatan pemulihan permintaan terhadap komoditas ini.

Harga minyak di bursa berjangka New York mengalami penurunan sekitar 2 persen menjadi di bawah US$37 per barel setelah ditutup pada level tertinggi sejak 6 Maret 2020.

Arab Saudi dan Rusia telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang pembatasan produksi selama satu bulan tambahan, tetapi komitmen itu tergantung pada anggota lain untuk memangkas produksi dalam bulan-bulan mendatang, terutama Irak yang baru-baru ini telah mengingkari komitmennya.

Sementara itu, data Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan permintaan diesel turun ke level terendah dalam 21 tahun pada minggu lalu dan stok bensin juga membengkak. Angka-angka menunjukkan bahwa konsumsi bahan bakar di negara konsumen minyak terbesar di dunia tidak pulih secepat yang diantisipasi sebelumnya.

Ketika harga minyak telah pulih dengan cepat sejak pertengahan April, Gedung Putih tiba-tiba menangguhkan penerbangan penumpang dari maskapai penerbangan China karena hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia terus memburuk.

Adapun, kerusuhan sipil di seluruh AS mempersulit pemulihan ekonomi dari virus dan risiko gelombang kedua infeksi. Harga minyak akhirnya kembali melemah.

West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli turun 1,7 persen menjadi US$36,65 per barel di New York Mercantile Exchange pada 07:36 di London setelah naik 1,3 persen pada hari Rabu, 3 Juni 2020.  Brent untuk pengiriman Agustus turun 1 persen menjadi US$39,39 di ICE Futures Europe exchange setelah diperdagangkan di atas US$40 untuk pertama kalinya dalam hampir tiga bulan di sesi sebelumnya.

"Keputusan OPEC+ akan menjadi kunci untuk arah harga selama minggu depan, dengan ekstensi potensial memberikan beberapa kenaikan terbatas," kata  Kepala Strategi Komoditas di ING Bank NV Warren Patterson.

Sementara itu, Riyadh dan Moskow sepakat soal pemotongan lanjutan produksi minyak dari level saat ini untuk satu bulan ekstra setelah 1 Juli 2020. Namun, jika keduanya tidak menerima jaminan dari Irak dan penghambat lainnya pada pertemuan berikutnya yang dijadwalkan pada 9-10 Juni, pembatasan pasokan harian akan turun menjadi 7,7 juta barel untuk sisa tahun 2020.

Ketidaksepakatan OPEC+ memuncak karena harga yang lebih tinggi telah mendorong beberapa produsen AS untuk kembali menormalkan produksi. EOG Resources Inc., produsen shale oil terbesar yang berfokus di Amerika, dan Permian Parsley Energy Inc. sedang bersiap untuk meningkatkan produksi hanya beberapa minggu setelah mematikan keran pasokan.

Diesel yang dipasok di AS turun 17 persen menjadi 2,72 juta barel per hari minggu lalu, menurut EIA, sementara persediaan bensin naik lebih tinggi dari perkiraan 2,8 juta barel. Stok minyak mentah keseluruhan turun 2,1 juta barel dan persediaan di pusat penyimpanan di Cushing menurun untuk minggu keempat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top