Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Gamang Menanti Rapat OPEC+

Kenaikan harga minyak bergantung pada arah rapat OPEC+
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  06:52 WIB
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA— Nasib kenaikan harga minyak bergantung pada kelanjutan rapat organisasi negara pengekspor minyak, OPEC+.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (4/6/2020), kenaikan harga minyak telah menyentuh titik tertingginya sejak awal Maret. Hal itu telah menciptakan optimism bahwa OPEC+ akan menyeimbangkan ulang pasar.

Kesepakatan awal telah tercipta yakni memperpanjang pemangkasan produksi dengan tambahan satu bulan. Arab Saudi dan Rusia sangat menginginkan dan kukuh bahwa negara yang tak patuh harus menambah volume pemangkasan produksi ke depannya.

Sikap tersebut meningkatkan ketidakpastian terhadap pasar yang telah reli dari riwayat harga rendah namun tetap rentan terhadap pelemahan permintaan saat ini dan kebanjiran pasokan.

Pemimpin OPEC+ akan melakukan rapat pada 10 Juni. Namun, negosiasi berlanjut.

Di AS, prospek konsumsi bensin redup setelah pemerintah merilis data permintaan bensin turun ke level terendah dalaam 21 tahun sementara stok naik ke level tertinggi sejak 2010.

Pasokan gasoline juga membengkak, menunjukkan konsumsi belum membaik secepat yang diharapkan. Penimbunan bahan bakar minyak melampaui penurunan yang lebih besar dari ekspektasi pada inventori minyak mentah.

Bursa berjangka di New York berfluktuasi di antara keuntungan dan kerugian karena sinyal pasar yang membingungkan. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri sesi dengan 1 persen lebih tinggi, harga turun setelah penutupan pasar.

Presiden Strategis Energy & Economic Research Inc. Michael Lynch mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu. Menurutnya, berapa volume yang akan dipangkas OPEC+.

 “Jika mereka memperpanjang sampai akhir tahun ini, itu akan mendorong optimism bagi pembeli,” katanya.

Arab Saudi dan Rusia, menekan Irak, Nigeria, Kazakstan dan Angola agar mau membuat komitmen yang tegas bahwa mereka akan patuh pada Juni dengan pemangkasan ekstra pada Juli, Agustus dan September.

Hal itu merupakan prospek yang menyakitkan bagi produsen yang telah berjuang dengan dampak harga rendah.

EOG Resources Inc., produsen minyak serpih atau shale oil di Amerika dan Parsley Energi Inc. telah menyarakan persiapan penambahan produksi hanya beberapa pekan setelah menghentikan kegiatan di sumurnya sementara.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec

Sumber : Bloomberg

Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top