Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Rumah Sakit Moncer, Pendapatan Lippo Karawaci Naik 7,6 Persen

Pertumbuhan bisnis rumah sakit mampu mengimbangi penurunan di lini usaha pengembangan properti. Secara umum, meski pendapatan naik, Lippo Karawaci menderita kerugian bersih akibat biaya sesekali, biaya konstruksi yang lebih tinggi, dan penyesuaian biaya nontunai sesekali di beberapa lini usaha.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 29 Mei 2020  |  19:50 WIB
CEO PT Lippo Karawaci Tbk. John Riady (kiri) bersama Presiden Direktur Ketut Budi Wijaya memberikan penjelasan saat halalbihalal dengan media, di Jakarta, Kamis (20/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
CEO PT Lippo Karawaci Tbk. John Riady (kiri) bersama Presiden Direktur Ketut Budi Wijaya memberikan penjelasan saat halalbihalal dengan media, di Jakarta, Kamis (20/6/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti PT Lippo Karawaci Tbk. mencatatkan peningkatan penjualan 7,6 persen pada 2019. Kendati pendapatan meningkat, Lippo Karawaci mentak kerugian hampir Rp2 triliun.

Emiten berkode saham LPKR itu mencatatkan mengumpulkan pendapatn sebanyak Rp12,25 triliun sepanjang 2019. Kenaikan pendapatan disumbang oleh pertumbuhan segmen pendapatan berulang yang dimotori oleh anak usaha, PT Siloam Hospitals Tbk. (SILO).

SILO meraup pendapatan sebesar Rp7,02 triliun sepanjang tahun lalu atau naik 17,7 persen. Unit bisnis rumah sakit itu berkontribusi 75,1 persen terhadap total pendapatan berulang LPKR.

Kenaikan pendapatan SILO tak lepas dari pembukaan rumah sakit baru pada kuartal IV/2019. Walhasil, rumah sakit yang dikelola mencapai 37 rumah sakit per akhir Desember 2019.

Manajemen menyebut geliat bisnis rumah sakit mampu mengimbangi penurunan pada bisnis properti dari tahun ke tahun. Pendapatan pengembangan real estat pada 2019 turun 3,8 persen menjadi Rp2,98 triliun. 

"Bisnis ini memberikan kontribusi sebesar 24,1 persen dari total pendapatan 2019 dibandingkan dengan 27 persen pada 2018," sebut manajemen dalam keterangan resmi pada Jumat (29/5/2020)

Pendapatan dari bisnis real estat turun karena perseroan tidak lagi membukukan penjualan lahan yang besar. Pada 2018, LPKR menjual tanah sebesar Rp838 miliar sedangkan 2019 hanya Rp65 miliar. Meski demikian, LPKR mampu membukukan peningkatan marketing sales sebesar 15,5 persen mencapai Rp1,85 triliun dari posisi Rp1,60 triliun di tahun 2018.

Sementara itu, LPKR membukukan laba bruto yang lebih rendah yaitu Rp4,60 triliun pada 2019 dibandingkan dengan Rp5,25 triliun pada 2018. Hal ini dikarenakan laba bruto segmen real estate development  turun 51,8 persen.

Sementara itu, laba bruto bisnis real estate management & services mencatat pertumbuhan 12,3 persen menjadi Rp3,58 triliun di tahun 2019. Penurunan laba bruto ikut menekan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) 2019 sebesar 43,4 persen menjadi Rp1,30 triliun.

Manajemen menyebutkan penurunan terutama disebabkan oleh biaya sesekali dan biaya konstruksi yang lebih tinggi untuk memulai kembali beberapa proyek konstruksi terintegrasi di bisnis real estate development pada 2018.

Selain itu perseroan juga melakukan penyesuaian biaya nontunai sesekali di Siloam pada 2019, yang menyebabkan margin EBITDA tahun 2019 turun menjadi 11 persen dari 20 persen pada 2018.

Akan tetapi, Siloam melaporkan pertumbuhan EBITDA sebesar 26,2 persen yang disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi dan kontrol biaya yang lebih baik di berbagai segmen bisnis. Sebagai hasil dari beberapa penyesuaian biaya sesekali, EBITDA yang dilaporkan oleh Siloam terkena dampak sebesar Rp123,3 miliar.

Manajemen menyebutkan yang mendasari pertumbuhan EBITDA adalah perbaikan kinerja dari berbagai segmen. Pasalnya kerugian EBITDA di rumah sakit turun menjadi Rp23 miliar pada kuartal keempat 2019 dari Rp26 miliar pada kuartal ketiga 2019, atau membaik sebesar 11,5 persen.

Secara keseluruhan, LPKR melaporkan rugi bersih tahun 2019 sebesar Rp1,98 triliun, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp720 miliar setahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten lippo karawaci
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top