Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lagi! OJK Suspensi Pembelian Reksa Dana, Kali Ini Giliran Sinarmas AM

Ada tujuh produk reksa dana Sinarmas Asset Management yang disuspensi oleh OJK.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 26 Mei 2020  |  14:00 WIB
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kembali menghentikan sementara pembelian dan switching produk reksa dana. Kali ini, produk investasi kolektif milik Sinarmas Asset Management yang terkena suspensi beli.

Berdasarkan surat edaran dari PT Bibit Tumbuh Bersama—salah satu agen penjual efek reksa dana— beberapa produk kelolaan manajer investasi Grup Sinarmas tersebut dihentikan sementara untuk pembelian dan switching berdasarkan instruksi OJK dengan nomor S-452/PM.21/2020 yang telah dikirimkan ke sistem S-INVEST per 20 Mei 2020 pukul 21.01 WIB.

“Penjualan untuk reksa dana ini masih dapat dilakukan. Kami sarankan, sebaiknya untuk melakukan penjualan/redemption sebelum cut off time pukul 12.00,” tulis Bibit dalam surel edaran kepada nasabah, dikutip pada Selasa (26/5/2020).

Adapun suspensi pembelian produk reksa dana ini menjadi yang terbaru setelah OJK sempat memberikan suspensi dan bahkan membubarkan sejumlah produk reksa dana pada akhir 2019 hingga awal 2020.

Direktur Sinarmas AM Jamial Salim mengatakan investor tidak perlu khawatir terkait penerapan suspensi terhadap produk reksa dana besutan Sinarmas AM. Dia mengungkapkan, pandemi Covid-19 telah mengakibatkan volatilitas harga obligasi dan membuat likuiditas di pasar ketat.

Hal tersebut membuat perseroan kesulitan mencapai harga jual yang wajar. Sinarmas AM kemudian melakukan pencatatan harga aset yang lebih konservatif di bawah nilai yang ditetapkan oleh Lembaga Penilaian Harga Efek (LPHE) pada produk Reksadana Danamas Mantap Plus dan Reksadana Simas Syariah Pendapatan Tetap.

“Namun seiring dengan membaiknya pasar, kami telah menyesuaikan harga aset dimaksud serta mengkomunikasikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” tulis Jamial dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Selasa (26/5/2020).

Sampai artikel ini diturunkan, pihak OJK belum memberikan konfirmasi ketika dihubungi oleh Bisnis.

Sebelumnya, OJK juga melayangkan surat imbauan kepada MNC Asset Management terkait penyesuaian komposisi portofolio. Sebanyak 7 produk reksa dana kelolaan manajer investasi dari Grup MNC ini pun terkena suspensi untuk sementara.

Produk reksa dana milik Narada AM juga terkena suspensi lantaran perseroan mencatatkan gagal bayar pembelian efek dan kinerja reksa dana anjlok signifikan.

PT Pratama Capital Asset Management juga mendapat hukuman serupa yakni suspensi produk reksa dana karena memiliki saham yang melewati batas aturan.

Paling keras, OJK meminta PT Minna Padi Aset Manajemen membubarkan 6 produk reksa dana yang tidak sesuai aturan dan mewajibkan seluruh stakeholders yang terlibat untuk mengikuti penilaian kembali uji kelayakan dan kepatuhan.

Berikut beberapa produk reksa dana milik Sinarmas AM yang pembelian dan switching dibekukan sementara:

Danamas Pasti

Produk reksa dana dengan jenis pendapatan tetap ini dirilis pada 28 April 2003 ini memiliki nilai aktiva bersih (NAB) senilai Rp21,95 miliar per April 2020.

Berdasarkan fund fact sheet  per April 2020, produk ini berinvestasi ke dalam surat utang korporasi (67,65 persen), surat utang pemerintah (26,15 persen), dan sisanya dalam bentuk kas dan pasar uang (6,20 persen).

Adapun, sepuluh besar efek dalam portofolionya terdiri dari Adira Finance, Angkasa Pura, Astra Sedaya Finance, Bank Maybank, Bank Panin, Indosat, Medco Energy, Obligasi Pemerintah, Siantar Top, dan Summarecon.

Per akhir April 2020, produk ini masih memberikan return sebesar 2,31 persen secara year-to-date, sementara sejak diluncurkan kinerjanya telah meroket hingga 271,74 persen.

Danamas Stabil

Produk reksa dana pendapatan tetap ini diluncurkan pada 28 Februari 2003. Sampai dengan akhir April 2020, total NAB tercatat senilai Rp8,43 triliun.

Berdasarkan fund fact sheet  per April 2020, Danamas Stabil berinvestasi ke efek obligasi korporasi (68,04 persen), obligasi pemerintah (5,44 persen), dan kas & pasar uang (26,52 persen).

Sepuluh besar efek dalam portofolionya terdiri dari Chandra Asri, Japfa, Lontar Papyrus, Mayora Indah, Moratelindo, Obligasi Pemerintah, Oto Multiartha, PLN, Sinarmas Multifinance, dan Waskita Karya.

Kinerja ytd per akhir April 2020 dari produk ini tercatat masih tumbuh 2,32 persen. Sejak diluncurkan, kinerjanya telah menguat 262,32 persen.

Danamas Rupiah

Danamas Rupiah merupakan reksa dana pasar uang dengan NAB senilai Rp14,85 miliar per April 2020. Adapun Sinarmas AM tak memiliki fund fact sheet produk ini dalam laman resminya.

Danamas Rupiah Plus

Produk reksa dana pasar uang ini diluncurkan pada 13 Juni 2006, Saat ini total NAB tercatat senilai Rp164,71 miliar.

Berbeda dengan dua produk di atas yang memiliki alokasi investasi ke obligasi pemerintah, Danamas Rupiah berinvestasi sebagian besar ke obligasi korporasi dengan porsi 77,20 persen dan sisanya kas & pasar uang sebesar 22,80 persen.

Berdasarkan fund fact sheet  per April 2020, produk ini memiliki obligasi dari Bank CIMB Niaga, Bank Maybank, BCA Finance, Indomobil Finance, Indosat, Rajawali Nusantara Indonesia, Siantar Top, Summarecon, Waskita Karya, Wom Finance.

Sejak awal tahun, produk ini memberikan return sebesar 1,54 persen sementara sejak diluncurkan kinerjanya menguat 45,44 persen.

Simas Saham Unggulan

Produk dengan jenis reksa dana saham ini dirilis pada 18 Desember 2012 dan per April 2020 tercatat dana kelolaannya senilai Rp1,19 triliun.

Berdasarkan fund fact sheet  per April 2020, alokasi investasi produk ini sebagian besar berada di saham yaitu sebesar 84,15 persen. Sisanya sebesar 15,85 persen ditempatkan di kas dan pasar uang.

Berikut sejumlah saham yang ada dalam portofolio produk Danamas Rupiah Plus: ASSA, LIFE, BBCA, BMRI, BBNI, BBRI, MIKA, TLKM, URBN, dan INCO.

Mengikuti kinerja IHSG, produk ini memberikan return -36,26 persen sejak awal tahun. Sedangkan sejak diluncurkan, kinerjanya tumbuh 15,18 persen.

Simas Syariah Unggulan

Reksa dana Simas Syariah Unggulan merupakan jenis reksa dana saham yang dirilis pada 8 Agustus 2014, dengan NAB senilai Rp55 miliar per April 2020.

Berdasarkan fund fact sheet  per April 2020, produk ini menempatkan investasi terbesarnya ke kelas aset saham (84,38 persen) dan sisanya ditempatkan di kas dan pasar uang (15,62 persen) dengan 10 portofolio a.l. ASII, ERAA, HKMU, MCAS, MDKA, LSIP, DMAS, SOSS, TLKM, dan URBN.

Sejak awal tahun, kinerjanya telah tergerus -39,05 persen dan sejak peluncuran telah turun -38,77 persen.

Simas Syariah Berkembang

Simas Syariah Berkembang yang merupakan reksa dana campuran ini diluncurkan bersamaan dengan Simas Syariah Unggulan. Per April 2020 tercatat dana kelolaannya senilai Rp13,86 miliar.

Berdasarkan fund fact sheet  per April 2020, produk ini berinvestasi sebagian besar ke saham (44,26 persen). Selanjutnya penempatan investasi ditempatkan pada obligasi krporasi (7,42 persen), obligasi pemerintah (22,48 persen), dan kas (25,86 persen).

Adapun top holding yang menyusun produk ini terdiri dari ADRO, ASII, ELSA, ICBP, INDF, Lontar Papyrus, PWON, sukuk negara, telekomunikasi, dan UCID. Sejak awal tahun kinerjanya turun 16,11 persen dan sejak diluncurkan masih tumbuh 6,21 persen.

Catatan Redaksi

Redaksi menambah keterangan dari pihak Sinarmas Asset Management pada aliena kelima, Selasa (26/5/2020) pukul 18.10 WIB

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sinarmas reksa dana pt sinarmas asset management
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top