Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wah RI Kian Banyak Terbitkan Global Bond, Lebih dari US$15 Miliar

Surat utang denominasi dolar AS dari Indonesia mencapai lebih dari US$15 miliar atau hampir tiga kali realisasi pada periode yang sama tahun 2019
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  06:40 WIB
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (16/3/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA— Pasokan global bond  asal RI semakin banyak dengan capaian lebih dari US$15 miliar secara tahun berjalan.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (13/5/2020), mencapai angka cukup tinggi yakni hampir tiga kali dari capaian pada periode yang sama tahun 2019. Adapun, angka US$15 miliar telah termasuk surat utang pemerintah senilai US$4,3 miliar.

Terbaru, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) merilis surat utang senilai US$2,5 miliar. Penawaran tersebut mendapat respons positif dengan nilai penawaran masuk mencapai enam kali dari target yang ditetapkan.

BUMN lain yang bakal menawarkan surat utangnya yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) dengan nilai US$1 miliar pada kuartal III/2020.

Sebelumnya, Bisnis mencatat PT Hutama Karya (Persero) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. yang melakukan langkah serupa. Hutama Karya telah mengemisi surat utang senilai US$600 juta, sementara Bank Mandiri menyatakan akan melakukan roadshow untuk menawarkan Euro Medium Term Notes (EMTN) Kedua dengan nominal US$1,25 miliar.

Analis Nomura Holdings Inc, Nicholas Yap mengatakan BUMN seharusnya tak memiliki masalah untuk masuk ke pasar surat utang offshore selama didukung oleh kemampuan bayar utang yang mumpuni.

Krisis kesehatan global tentunya menjadi tantangan bagi pendanaan pemerintah dan risiko bagi Indonesia. Sejak 2003 Indonesia menetapkan batas defisit anggaran pada level 3 persen yang akhirnya dilepas sementara untuk menangani pandemi virus corona.

Indonesia pun mendapatkan prospek utang negatif dari sebelumnya stabil pada peringkat BBB yang disematkan S&P Global Ratings bulan lalu.

Kendati terdapat bayang-bayang risiko pandemi virus corona, Portfolio Manager BlackRock Inc., Artur Piasecki tak berharap bahwa kondisi tersebut akan berakhir pada penurunan peringkat yang signifikan dari lembaga pemeringkat terhadap peringkat Indonesia. Dia menyebut sentimen di pasar berkembang diharapkan bisa menjadi penggerak namun surat utang Indonesia tetap harus mampu berkinerja baik dalam jangka menengah.

Indonesia sendiri memiliki keunggulan dari sisi defisit anggaran yang rendah dalam beberapa tahun dan cadangan mata uang asing pada level rendah di awal 2020 yang menjadi bantalan sejumlah tantangan pasar berkembang.

Para penerbit surat utang pun mendapatkan manfaat dari reli di pasar surat utang akibat rangsangan dari bank sentral seluruh negara.

Portfolio Manager Asian Corporate Research Neuberger Berman, Sean Jutahkiti mengatakan terlepas dari konsen terhadap melemahnya rating Indonesia, BUMN harus mampu berkinerja baik sejalan dengan guyuran dana dan akses terhadap pendanaan.

“Kami secara umum konstruktif terhadap aset Indonesia,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

global bond peringkat utang utang negara UTANG BUMN

Sumber : Bloomberg

Editor : Duwi Setiya Ariyanti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top