Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

'Disuntik' Obat Corona, IHSG Lari Kencang Jelang Long Weekend

Penguatan IHSG dinilai mendapat dorongan dari masih tingginya dominasi saham perbankan sebagai movers pada pekan ini.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 April 2020  |  15:57 WIB
Pengunjung melintasi layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Abdurachman
Pengunjung melintasi layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin bertenaga dan melompat lebih dari 3 persen menyambut akhir pekan yang panjang.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG berakhir di level 4.716,4 dengan lonjakan 3,26 persen atau 149,08 poin pada perdagangan hari ini, Kamis (30/4/2020), dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (29/4/2020), IHSG ditutup di level 4.567,32 dengan penguatan 0,83 persen atau 37,77 poin, kenaikan hari ketiga beruntun.

Penguatan indeks berlanjut sejak awal perdagangan Kamis dengan langsung naik tajam lebih dari 1 persen ke level 4.621,32. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak dalam kisaran 4.567,4-4.726,77.

Seluruh 10 sektor pada IHSG berakhir di wilayah positif, dipimpin finansial (+5,45 persen), aneka industri (+3,59 persen), infrastruktur (+3,36 persen), dan perdagangan (+3,02 persen).

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang naik 6,6 persen dan 11,5 persen masing-masing menjadi pendorong utama IHSG (lihat tabel).

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, penguatan IHSG di antaranya mendapat dorongan dari masih tingginya dominasi saham perbankan sebagai movers pada pekan ini. Selain itu, investor juga fokus pada laporan keuangan emiten untuk kuartal I/2020.

Bersama IHSG, indeks saham lain di Asia rata-rata berakhir di zona hijau, antara lain indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang yang masing-masing menguat 2,14 persen dan 1,03 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 pun ditutup menguat 1,33 persen dan 1,18 persen. Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia dan Taiex Taiwan sama-sama melonjak lebih dari 2 persen.

Indeks saham lain di Asia Tenggara tak ingin ketinggalan dengan SET 50 Thailand (+1,09 persen), Straits Times Singapura (+2,02 persen), dan FTSE KLCI Malaysia (+2,33 persen).

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pacific naik bersama bursa Eropa dan kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat di tengah optimisme soal laporan keuangan korporasi dan tanda-tanda progres pengobatan penyakit virus corona (Covid-19).

Bursa Wall Street AS melonjak pada perdagangan Rabu setelah perusahaan biofarmasi Gilead Sciences Inc. melaporkan bahwa obat eksperimentalnya membantu penderita penyakit virus corona pulih lebih cepat.

Anthony Fauci, Kepala Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional (NIAID), mengatakan uji coba klinis menunjukkan hasil awal yang menggembirakan mengenai pengobatan penyakit virus corona yang dibuat Gilead.

Pernyataannya serta merta memberi optimisme yang dibutuhkan pasar bahwa para ilmuwan membuat kemajuan dalam terapi untuk memerangi pandemi corona.

Kabar baik mengenai obat potensial untuk pasien Covid-19 itu sampai membuat investor mengabaikan kontraksi ekonomi AS pada kuartal I/2020 dan peringatan dari bank sentral Federal Reserve AS bahwa krisis corona "menimbulkan risiko cukup besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah".

“Apa yang benar-benar menggerakkan pasar pada tahap ini adalah berita positif tentang pengobatan dan vaksin potensial, karena pada akhirnya ini adalah suatu game changer,” ujar Seema Shah, ahli strategi investasi global untuk Principal Global Investors.

“Itulah yang akan mendorong pasar, ditambah apa pun terkait dengan pencabutan lockdown,” tambahnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, ekonomi AS terkontraksi 4,8 persen secara tahunan pada kuartal pertama, penurunan terburuk sejak 2008, ketika upaya yang dilancarkan untuk membendung persebaran virus corona telah memaksa banyak perusahaan di AS tutup dan konsumen tidak keluar dari rumah masing-masing.

Hanya beberapa jam setelah laporan tersebut, bank sentral Federal Reserve AS memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran level saat ini dan berjanji untuk mempertahankannya hingga ekonomi AS kembali pulih.

Gubernur The Fed Jerome Powell menyuarakan kekhawatiran bahwa krisis corona dapat meninggalkan bekas luka yang permanen pada ekonomi dan mengatakan agar pembuat kebijakan dari semua area perlu berbuat lebih banyak untuk membatasi kerusakannya.

Menyusul keputusan kebijakan moneter The Fed, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melonjak 414 poin atau 2,70 persen ke level Rp14.881 per dolar AS bersama penguatan mayoritas mata uang lain di Asia.

Sebaliknya, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, lanjut turun 0,05 persen atau 0,045 poin ke posisi 99,520.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BBCA

+6,6

BMRI

+11,5

BBRI

+5,8

TLKM

+4,5

Saham-saham penekan IHSG:

Kode

Penurunan (persen)

ICBP

-1,3

KLBF

-2,0

INDF

-2,2

STTP

-6,9

Sumber: BEI

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah Bursa Asia
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top