Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pedagang Khawatir Harga Minyak Mentah Minus Lagi, WTI Amblas

Harga minyak mentah di bursa berjangka New York turun pada akhir perdagangan Selasa (28/4/2020) di tengah kekhawatiran bahwa harga komoditas ini akan kembali terperosok ke zona negatif.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 April 2020  |  05:40 WIB
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah di bursa berjangka New York turun pada akhir perdagangan Selasa (28/4/2020) di tengah kekhawatiran bahwa harga komoditas ini akan kembali terperosok ke zona negatif.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni 2020 ditutup melemah 44 sen ke level US$12,34 per barel di New York Mercantile Exchange. Namun, harga minyak Brent untuk kontrak bulan yang sama mampu naik 47 sen ke level US20,46 per barel.

WTI kontrak Juni turun 3,4 persen pada Selasa setelah harga kontrak berjangka serta spread antara kontrak Juni dan Juli diguncang oleh volatilitas.

Keputusan mendadak dari S&P Global Inc. untuk memberi tahu klien-klien mereka agar melakukan penjualan untuk kontrak Juni menyebabkan harga anjlok mendekati level US$10 per barel dalam sesi perdagangan Selasa.

S&P berada di belakang indeks komoditas GSCI, produk investasi populer yang dilacak oleh dana pensiun dan investor global lainnya. Ketika S&P mengubah kebijakan investasi, bank-bank yang menjual produk pada gilirannya memindahkan kepemilikan mereka, sehingga memicu pasar energi yang tidak stabil.

“Langkah yang tidak terjadwal ini dilakukan berdasarkan potensi kontrak Minyak Mentah WTI Juni 2020 dengan harga pada atau di bawah nol,” papar S&P dalam suatu pemberitahuan.

Sejak WTI untuk kontrak Mei diperdagangkan negatif pekan lalu, lebih dari 40 persen kontrak untuk Juni telah dilikuidasi. Adapun kepemilikan untuk kontrak Juli stabil dan untuk kontrak berjangka September melonjak hampir 20 persen.

Sementara itu, persediaan minyak mentah yang terisi dengan cepat memaksa investor untuk menghadapi kemungkinan bahwa tidak akan tersedia ruang penyimpanan untuk minyak fisik sebelum kontrak Juni berakhir.

“Kontrak Juni akan seperti apa yang terjadi dengan Mei,” tutur commodity fund manager Tariq Zahir di Tyche Capital Advisors LLC., dikutip dari Bloomberg.

“Bisa bergerak menyentuh dua puluh dolar, bisa empat dolar, bisa negatif. Kita berada di masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya. [Harga minyak] kontrak Juni bisa menyentuh level mana saja,” sambungnya.

Di sisi lain, laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS bertambah 9,98 juta barel pekan lalu. Adapun, persediaan di Cushing, Oklahoma, naik 2,49 juta barel sedangkan persediaan bensin turun sebanyak 1,11 juta.

Harga minyak mentah telah merosot sekitar 80 persen sejak awal tahun karena pandemi virus corona (Covid-19) menghancurkan permintaan untuk bahan bakar global.

Merespons permasalahan ini, produsen-produsen terbesar dunia telah berjanji untuk memangkas produksi harian mulai bulan depan guna menyeimbangkan pasar. Tetap saja, jatuhnya konsumsi telah menyebabkan kelebihan suplai membengkak yang menguji batas penyimpanan di seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah wti
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top