Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rencana Buyback Emiten, Rp18,44 Triliun Belum Masuk ke Pasar

Tercatat, sisa dana dari rencana aksi korporasi itu masih sekitar Rp18,44 triliun.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 24 April 2020  |  17:22 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (tengah) berbincang dengan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi (kanan), dan Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia Karman Pamurahardjo di sela-sela peluncuran market standard atau standardisasi pasar untuk transaksi Repurchase Agreement atau Repo, atas efek bersifat ekuitas, di Jakarta, Selasa (21/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (tengah) berbincang dengan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi (kanan), dan Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia Karman Pamurahardjo di sela-sela peluncuran market standard atau standardisasi pasar untuk transaksi Repurchase Agreement atau Repo, atas efek bersifat ekuitas, di Jakarta, Selasa (21/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com,JAKARTA—Sisa dana rencana buyback atau pembelian kembali saham senilai Rp18,44 triliun dari 65 emiten belum masuk ke pasar untuk menopang laju indeks harga saham gabungan (IHSG) yang masih tertekan khususnya aksi jual investor asing di tengah penyebaran pandemi Covid-19.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan ada 65 emiten yang sudah melaporkan rencana buyback hingga, Kamis (23/4/2020). Dari jumlah itu, 12 di antaranya merupakan badan usaha milik negara (BUMN).

Total nilai rencana buyback yang dicatat BEI telah mencapai Rp19,31 triliun. Nilai itu terdiri atas BUMN Rp10,15 triliun dan nonBUMN Rp9,16 triliun.

“64,6 persen dari total 65 perusahaan yang sudah merencanankan buyback sudah melaksanakan [per 23 April 2020],” ujar Direktur Utama BEI Inarno Djajadi dalam konferensi pers virtual, Jumat (24/4/2020).

Secara detail, BEI mencatat baru 7 BUMN yang telah merealisasikan buyback dengan total nilai Rp181,63 miliar hingga, Kamis (23/4/2020). Sementara itu, 35 perusahaan nonBUMN sudah melaksanakan pembelian kembali saham dengan total nilai Rp694,46 miliar.

Dengan demikian, total realisasi buyback senilai Rp876,09 miliar hingga, Kamis (23/4/2020). Tercatat, sisa dana dari rencana aksi korporasi itu masih sekitar Rp18,44 triliun.

Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan Surat Edaran OJK Nomor 3/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Maret 2020. Isi dari edaran itu utamanya merelaksasi pembelian kembali atau buyback dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).

Relaksasi itu diberikan oleh OJK untuk memberikan stimulus perekonomian dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi signifikan. Hal itu juga setelah mencermati kondisi perdagangan saham di BEI sejak awal 2020 hingga 9 Maret 2020 yang telah merosot 18,46 persen.

Selain relaksasi tersebut, sejumlah kebijakan juga telah dikeluarkan oleh OJK dan BEI. Salah satunya pemberlakukan trading halt atau pembekuan sementara perdagangan apabila indeks harga saham gabungan (IHGS) turun lebih dari 5 persen mulai 10 Maret 2020.

Adapun, otoritas bursa juga telah menerapkan perubahan ketentuan batasan auto rejection dengan batas bawah penurunan 7 persen mulai 13 Maret 2020.

Inarno mengklaim penerapan kebijakan itu cukup berhasil menahan harga saham tidak turun lebih dalam karena adanya panic selling atau tekanan jual oleh para investor. Menurutnya, kebijakan ini memberi waktu bagi investor untuk lebih rasional mencermati perkembangan pasar.

“Hal ini terlihat setelah auto halting 30 menit, IHSG tidak turun lebih dalam bahkan di beberapa hari justru berbalik menjadi lebih baik atau mengalami kenaikan,” paparnya.

Adapun, BEI mencatat telah terjadi enam kali trading halt sejak diberlakukan ketentuan tersebut.

Inarno mengatakan pihaknya masih memiliki sejumlah kebijakan lain. Akan tetapi, pihaknya tidak mengetahui sampai kapan penyebaran pandemi Covid-19 akan berlangsung sehingga kebijakan yang dikeluarkan akan sesuai dengan kondisi pasar.

“Kami harus irit peluru karena tidak tahu sampai kapan,” jelasnya.

Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup terkoreksi 2,12 persen ke level 4.496,064 pada perdagangan, Jumat (24/4/2020). Total transaksi di pasar tunai, reguler, dan negosiasi senilai Rp6,23 triliun.

Investor asing tercatat masih melakukan aksi jual dengan catatan net sell atau jual bersih Rp1,09 triliun. Secara year to date (ytd) total net sell investor asing mencapai Rp17,57 triliun hingga akhir perdagangan, Jumat (24/4/2020).

Aksi jual asing telah membuat IHSG terkoreksi 28,63 persen secara ytd. Kapitalisasi pasar telah menyusut dari Rp7.265,01 triliun per 30 Desember 2019 menjadi Rp5.214,08 triliun.

Secara terpisah, Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai realisasi buyback masih belum maksimal karena alokasi itu bersifat sebanyak-banyaknya. Artinya, emiten dapat menggunakan dana itu hingga batas waktu tertentu namu tidak wajib dihabiskan.

Dengan demikian, Aria menyebut emiten bukan menggunakan dana itu untuk mengangkat harga saham. Akan tetapi, hanya untuk menjaga kejatuhan harga saham yang terlalu dalam.

Di sisi lain, dia menilai kebijakan auto rejection bawah (ARB) dan trading halt membantu meredakan kepanikan. Dengan demikian, saat tekanan jual berlebihan dan irasional, para investor mendapatkan jeda untuk meredakan sisi emosionalnya.

“Jelas hal ini membantu sementara kondisi sedang berada di tingkat volatilitas yang tinggi,” paparnya.

Di lain pihak, Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan dana buyback dari sisa rencana tidak perlu dihabiskan pada 2021. Artinya, mungkin alokasi itu dapat diperpanjang hingga 2021.

Bahkan, Janson malah menyarankan agar dana buyback dikurangi lalu dialihkan untuk kebutuhan belanja modal yang akan datang. Pasalnya, riskt appetite belum sepenuhnya kembali ke emerging market khususnya Indonesia.

“Jadi, ini semua tergantung foreign risk appetite jadi bukan karena shares buyback. Artinya, belum tentu menopang indeks karena indeks berat untuk melewati 4.970,” jelasnya.

Dia menekankan faktor yang menjadi penentu pergerakan IHSG yakni foreigns risk appetite, penanganan Covid-19 di Indonesia, melambatnya kurva kasus baru Covid-19 di Indonesia.

“Kalau penanganan dan penyebaran sudah menunjukkan flattened curve saya rasa foreign risk appetite balik lagi ke Indonesia,” jelasnya.

Implementasi Buyback Saham Tanpa RUPS per 23 April 2020 

Kategori Perusahaan TercatatNilai Buyback (Rp Triliun)
BUMN1210,15
Non-BUMN539,16
Total6519,31

Kategori
Sudah Melaksanakan 
Belum Melaksanakan
Total
BUMN
7
5
12
NON BUMN
35
18
53

Kategori
Rencana Nilai Buyback 
Realisasi Nilai Buyback
Persentase Realisasi
BUMN
Rp10,15 triliun
Rp181,663 miliar
1,8%
NON BUMN
Rp9,16 triliun
Rp694,46 miliar
7,6%

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bei BUMN Buyback
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top