Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berpotensi Bawa Cuan, Masuknya Investor Jepang Bakal Dorong Saham SMGR dan SMCB

Analis PT Ciptadana Sekuritas Asia Fahressi Fahalmesta menyatakan bahwa rencana divestasi itu berpotensi mendatangkan keuntungan ekstra untuk Semen Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas perusahaan itu.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 22 April 2020  |  18:55 WIB
Produk semen PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. (SMCB). Istimewa
Produk semen PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. (SMCB). Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. mendivestasikan sebagian sahamnya di PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. dinilai akan berdampak positif terhadap kinerja emiten pelat merah tersebut.

Analis PT Ciptadana Sekuritas Asia Fahressi Fahalmesta menyatakan bahwa rencana divestasi itu berpotensi mendatangkan keuntungan ekstra untuk Semen Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas perusahaan itu.

Dia mengatakan bahwa TCC menargetkan akan mengakuisisi sekitar 15 persen kepemilkan SBI dengan perkiraan dana mencapai 20—25 miliar yen atau setara dengan Rp2,3 triliun — Rp3,6 triliun. Menurutnya, dengan perhitungan ini transaksi pembelian saham baru oleh TCC akan mencapai sekitar Rp2.500 — Rp3.100 per saham.

"Dengan mempertimbangkan kembali saat Semen Indonesia merger dengan SBI, harga dari tender offer transaksi saat itu adalah Rp2.097 per saham, pasar akan melihat akuisisi 15 persen saham oleh TCC ini dilakukan pada valuasi yang premium,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (22/4/2020).

Dia mengatakan bahwa dengan demikian, maka transaksi ini berpotensi memberikan keuntungan divestasi bagi Semen Indonesia. Dia juga mengatakan bahwa tentu saja ha ini akan mendorong peningkatan harga saham emiten berkode SMGR itu.

Dia juga menilai masuknya TCC ke tubuh SBI akan memperkuat jaringan ekspor perseroan. Hal ini, pada akhirnya dinilai akan kembali memberikan katalis positif bagi SMGR di lantai bursa.

Fahressi menambahkan di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, potensi transaksi akan sangat berarti dalam mendorong pergerakan harga saham emiten yang terlibat. Hal ini akan tetap terjadi, meskipun kesepakatan di antara ketiga pihak baru fase awal.

“Rekomendasi kami untuk SMGR tetap beli dengan target harga Rp14.300 per saham. Di luar rencana investasi TCC, kami tetap khawatir dengan adanya potensi penurunan volume penjualan di tengah kondisi ekonomi seperti saat ini.”

Sementara itu, Analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya mengatakan bahwa dengah potensi traksasi US$220 juta dan estimasi nilai kurs di level Rp15.500 per dolar AS, nilai transaksi yang akan terjadi mencapai Rp3,41 triliun.

“Dari estimasi perhitungan tersebut berarti transaksi ini bisa menguntungkan SMGR. Selain itu juga dengan bergabungnya TCC ini akan memperkuat posisinya SMGR sebagai pemain utama industri semen di level regional,” katanya.

Dia menjelaskan meski potensi kerja sama ini akan membawa berkah bagi SMGR. Investor tetap perlu mencermati potensi penurunan penjualan akibat pasar yang lesu di tengah kondisi ini. Selain itu, average selling price (ASP) juga diperkirakan tidak akan naik.

“Untuk SMGR kami tetap rekomendasi beli target price-nya di Rp11.200 per saham,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji menyatakan bahwa pada perdagangan hari ini saja pergerakan saham SMGR dan SMCB—kode saham SBI, sudah mulai menguat. Hal ini terjadi karena pasar mengapresiasi rencana korporasi tersebut.

“Faktor investasi TCC dan program stimulus Trump juga iktu mendkung penguatan emiten semen pada hari ini. Dari rekomendasi kami, SMGR memiliki target harga jangka Rp10.575, sementara SMCB di level Rp1.300 per saham. Akumulasi beli untuk SMGR dan maintain buy untuk SMCB,” ucapnya.

Sementara itu, saham SMCB mengalami auto reject atas seiring dengan potensi masuknya Taiheiyo Cement Co. Ltd (TCC).

Pada perdagangan Selasa (22/4/2020) sekitar pukul 14.49 WIB, saham SMCB menanjak 24,55 persen atau 205 poin menjadi Rp1.040. Nilai transaksi sahamnya mencapai Rp444,09 miliar.

Saham SMCB pun mengalami auto reject atas (ARA) berdasarkan regulasi auto rejection simetris.

Dalam kebijakan auto rejection simetris, batas atas dan batas bawah memiliki besaran yang sama di setiap fraksi harga.

Rinciannya, kelompok harga saham di rentang Rp50-Rp200 memiliki batas atas dan batas bawah 35 persen, rentang harga Rp200-Rp5.000 berbatas atas dan berbatas bawah 25 persen, dan rentang harga di atas Rp5.000 memiliki batas atas dan batas bawah sebesar 20 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham solusi bangun indonesia
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top