Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Direktur Semen Baturaja (SMBR) Baru Borong Saham, Sudah Untung 29 Persen

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2020) saham SMBR melonjak 14,39 persen atau 40 poin menjadi Rp318. Artinya, sejak tanggal pembelian yang dilakukan Dede, saham SMBR melejit 29,26 persen.
ilustrasi/bisnis.com
ilustrasi/bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu direksi PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. memborong sejumlah saham perseroan sebanyak 5.000 saham.

Dalam keterbukaan informasi, Direktur Pemasaran Semen Baturaja Dede Parasade menyampaikan dirinya membeli 5.000 saham SMBR pada 7 April 2020. Harga pembelian Rp246 per saham.

"Tanggal transaksi pada 7 April 2020, tujuan transaksi ialah pembelian saham dengan status kepemilikan langsung," paparnya, Rabu (22/4/2020).

Dede pun kini memegang 5.000 saham SMBR dari sebelumnya tidak punya sama sekali. Total transaksi pembelian saham tersebut mencapai Rp1,23 juta.

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2020) saham SMBR melonjak 14,39 persen atau 40 poin menjadi Rp318. Artinya, sejak tanggal pembelian yang dilakukan Dede, saham SMBR melejit 29,26 persen.

Sepanjang tahun berjalan, saham SMBR melorot 27,73 persen. Namun, dalam sebulan terakhir harga sudah melambung 96,3 persen.

Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp3,16 triliun dengan price to earning ratio (PER) 106 kali.

Sementara itu, Semen Baturaja mengalami koreksi penjualan semen pada periode kuartal pertama tahun ini sebesar 15 persen.

Corporate Secretary Semen Baturaja Basthony Santri menyatakan bahwa penurunan penjualan hingga Maret itu terjadi seiring menurunnya permintaan semen akibat beberapa hal, salah satunya tertundanya sejumlah proyek pembangunan di area Sumatra bagian Selatan (Sumbagsel).

“Penjualan SMBR telah terkoreksi sebesar 15 persen, seiring dengan penurunan permintaan semen di Sumbagsel yang menjadi pasar basis SMBR karena beberapa proyek yang tertunda pelaksanaannya akibat dari musim hujan di awal tahun,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (16/4/2020).

Dia menambahkan pelaksanaan proyek yang tertunda pada periode tersebut juga disebabkan oleh mulai merebaknya pandemi virus corona atau Covid-19. Pandemi ini membuat mobilitas manusia berkurang, termasuk untuk pekerjaan konstruksi.

Perseroan juga terus mengevaluasi dampak yang ditimbulkan dari pandemi tersebut jika terus mewabah dan tak tertangani. Dari sisi operasional, perseroan juga mulai melakukan pencegahan guna menghindarkan tenaga kerjanya dari pandemi itu.

“Dampak meluasnya wabah Covid-19 terhadap permintaan semen Nasional sepanjang 2020 diperkirakan akan menyebabkan koreksi 8 persen—22 persen,” katanya.

Mencermati prospek penjualan yang kian suram, perseroan juga turut melakukan penyesuaian terhadap target penjualan. Namun, dia enggan merinci detail target baik sebelum maupun setelah direvisi.

“Selain itu, untuk menunjang kinerja di 2020, kami melakukan efisiensi biaya operasional dan penyesuaian pelaksanaan sejumlah anggaran belanja,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper