Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Naik 0,83 Persen, Akhir Pekan yang Indah Buat Rupiah

Dalam sepekan, rupiah menguat 2,4 persen dan menjadi salah satu pemimpin penguatan mata uang Asia terhadap dolar AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Maret 2020  |  17:50 WIB
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan pekan ini dengan parkir di zona hijau, didukung oleh kembalinya minat investor untuk mengumpulkan aset berisiko sejalan dengan rencana penggelontoran stimulus jumbo oleh Pemerintahan Amerika Serikat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada akhir perdagangan pekan ini, Jumat (27/3/2020), rupiah berhasil terapresiasi 0,83 persen atau 135 poin ke level Rp16.170 per dolar AS. 

Penguatan tersebut menjadi kinerja harian terbaik kedua di antara mata uang Asia lainnya, yaitu tepat di bawah won yang menguat 1,81 persen dan di atas peso Filipina yang naik 0,25 persen.

Secara mingguan, rupiah berhasil mencatatkan kinerja positif yaitu menguat 2,4 persen. Kinerja itu pun menjadi kinerja mingguan positif pertama rupiah setelah terkoreksi dua pekan berturut-turut. Sepanjang tahun berjalan 2020, rupiah telah bergerak melemah hingga 16,62 persen melawan dolar AS.

Kendati demikian, pada pertengahan perdagangan pekan ini, untuk pertama kalinya dalam 22 tahun terakhir atau sejak krisis 1998, rupiah sempat menyentuh Rp16.575 per dolar AS. Level itu pun hanya berjarak 75 poin untuk menuju level terendah rupiah sepanjang sejarah.

Sementara itu, pada perdagangan Jumat (27/3/2020) hingga pukul 17.00 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama berada di posisi 99,491.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa rupiah beserta aset berisiko lainnya berhasil mendapatkan momentum untuk berbalik arah positif seiring dengan berkurangnya kecenderungan investor untuk melikuidasi aset dan mencari dolar AS.

Adapun greenback melemah disebabkan oleh optimisme pasar terhadap stimulus pemerintah AS sebesar US$2 triliun untuk meredam dampak negatif wabah corona terhadap perekonomian AS. Untuk diketahui, senat AS telah menyetujui proposal stimulus tersebut sehingga pasar tinggal menanti persetujuan dari DPR AS.

“Rupiah berpotensi bergerak menguat ke arah Rp16.000 per dolar AS dengan support level selanjutnya Rp15.800 per dolar AS,” ujar Ariston saat dihubungi Bisnis, Jumat (27/3/2020).

Selain, sentimen optimisme stimulus jumbo dari pemerintah AS tersebut, dolar AS juga mendapatkan tekanan dari jatuhnya angka pengangguran di AS. Tercatat, total pengangguran AS anjlok hingga 3,28 juta orang pada pekan ini, jauh lebih tinggi daripada total pengangguran pekan lalu sebesar 281.000 orang.

Kendati demikian, Ariston mengatakan bahwa ruang bagi rupiah untuk kembali melemah terbuka lebar. Hal tersebut seiring dengan belum redanya kasus penyebaran virus corona atau COVID-19 di seluruh dunia.

“Stimulus hanya meredam, kalau pokok permasalahannya malah membesar tentu pasar akan tetap khawatir,” ujar Ariston.

Dia memproyeksi pada pekan depan rupiah berpotensi dibuka menguat dan bergerak di kisaran Rp15.800-Rp16.300 per dolar AS.

Sementara itu, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa persetujuan DPR AS terhadap stimulus US$2 triliun menjadi kunci penguatan rupiah untuk lepas dari kisaran level Rp16.000 per dolar AS.

Selain itu, komitmen negara-negara yang tergabung ke dalam G20 berjanji akan menggelontorkan dana sebesar US$5 triliun guna menggeliatkan roda ekonomi kembali diyakini dapat memberikan kepercayaan diri dan meredam kekhawatiran investor.

Di sisi lain, Bank Indonesia terus melakukan intervensi menjaga kestabilan nilai tukar, salah satunya melalui pasar valas dan obligasi di perdagangan domestic non delivery forward (DNDF).

“Dalam perdagangan minggu depan, rupiah kemungkinan akan menguat karena program stimulus tak terbatas akan disetujui DPR AS. Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp15.900-Rp16.250 per dolar AS,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Jumat (27/3/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Rupiah Kebijakan The Fed
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top