Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Analis Jelaskan Efek Mudarat Bila BEI Ikuti Langkah Bursa Filipina

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan jika pasar ditutup sementara maka akan terjadi gap begitu pasar kembali dibuka. Di tengah situasi ini, dikhawatirkan malah terjadi gap down karena sentimen negatif masih kuat, terutama dari wabah virus corona atau Covid-19
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  19:57 WIB
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektornik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Selasa (17/3/2020). Pada perdagangan Selasa (17/3), IHSG tertekan di zona merah dan sempat mengalami trading halt menjelang akhir perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,99 persen atau 233,91 poin ke level 4456,75. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Januari 2016. Bisnis - Abdurachman
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektornik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Selasa (17/3/2020). Pada perdagangan Selasa (17/3), IHSG tertekan di zona merah dan sempat mengalami trading halt menjelang akhir perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,99 persen atau 233,91 poin ke level 4456,75. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Januari 2016. Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati indeks harga saham gabungan (IHSG)) masih belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, pihak analis menilai bursa dalam negeri tak perlu ditutup seperti yang dilakukan oleh Filipina dan Srilanka.

Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan jika pasar ditutup sementara maka akan terjadi gap begitu pasar kembali dibuka. Di tengah situasi ini, dikhawatirkan malah terjadi gap down karena sentimen negatif masih kuat, terutama dari wabah virus corona atau Covid-19

Menurutnya, sejauh ini tren pelemahan yang dialami IHSG masih wajar. Situasi saat ini, kata Nafan, jangan hanya dimaknai dari sisi kekhawatiran pelaku pasar tapi juga dari sisi kesempatan yang muncul misalnya ada investor-investor baru yang masuk ke pasar modal karena tergoda oleh harga yang murah.

“Kita ambil dari sisi positifnya, jangan dari ketakutannya saja. Berarti kita bisa menjaring investor baru. Kalau bursanya libur gimana?” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa (17/3/2020).

Di sisi lain, dia menyebut pemerintah perlu bekerja lebih keras dalam memberikan stimulus jangka pendek agar dapat membuat pasar stabil, tak hanya dari sisi ekonomi tapi dari sisi penanganan untuk mencegah penyebaran wabah.

Terpisah, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali juga menilai lebih baik pasar modal tetap dibuka seperti biasa. Pasalnya, jika pasar tutup maka akan bertentangan dengan konsep free market yang diusung.

“Justru menghilangkan kepercayaan investor. Kalau menutup pasar [berarti] tidak konsisten dengan konsep free market,” tambah Frederik.

Sementara itu pada perdagangan Selasa (17/3/2020) pergerakan IHSG ditutup melemah 4,99 persen atau 233,91 poin ke level 4456,75. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Januari 2016.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) di bursa setelah IHSG anjlok 5 persen pada pukul 15.02 WIB dan pukul 15.50 WIB. Tercatat, trading halt ini merupakan yang keempat kalinya sepanjang Maret 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham bei
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top