Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Sudah Murah, Manajer Investasi Masih Wait & See

Manajer investasi masih menunggu kondisi pasar karena penurunan harga saham diperkirakan akan berlanjut.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 17 Maret 2020  |  17:40 WIB
Pengunjung menggunakan smarphone memotret papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Seni (16/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Pengunjung menggunakan smarphone memotret papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Seni (16/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan manajer investasi belum mau terburu-buru memborong instrumen saham dalam portofolio asetnya kendati harga saham diakui sudah murah. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,99 persen atau 233,91 poin ke level 4456,75 pada perdagangan hari ini, Selasa (17/3/2020). Level tersebut merupakan yang terendah sejak Januari 2016. Dalam periode tahun berjalan atau year to date, IHSG telah terkoreksi hingga 29,25 persen.

Chief Investment Officer KISI Asset Management Susanto Chandra menilai mengatakan valuasi saham saat ini sudah cukup murah dan pihaknya juga berencana melakukan pembelian saham. 

Namun, saat ini pihaknya masih memonitor kondisi global dan menunggu pasar mulai stabil. Pasalnya, pelemahan pasar saham diprediksi bisa berlanjut. “Jadi kami masih wait and see,” ujar Susanto saat dihubungi Bisnis, Selasa (17/3/2020).

Direktur Panin Asset Management atau Panin AM Rudiyanto mengatakan pihaknya masih sangat berhati-hati sebelum melakukan pembelian saham. Dia menyebut, perseroan masih memantau posisi likuiditas untuk memastikan ada kas yang cukup sebelum berbelanja saham.

Manajer investasi, kata Rudiyanto, tak bisa melakukan pembelian terlalu agresif karena terkait dengan pola subscription dan redemption dari nasabah sangat dinamis. Sehingga alokasi dana untuk nasabah yang melakukan redemption atau switching selalu jadi prioritas. 

“Kalau subscription [naik] berarti ada tambahan kas, mungkin mulai beli,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (16/3/2020)

Presiden Direktur Sucorindo Asset Management Jemmy Paul Wawointana juga menyatakan hal yang serupa.  “Iya [berminat] tetapi tergantung dengan subscription juga sih,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari Mulyanto mengatakan manajer investasi yang memiliki kas lebih tak ada salahnya untuk melakukan pembelian. 

Akan tetapi, dia mengingatkan manajer investasi juga perlu menjaga cadangan likuiditas untuk pembayaran nasabah yang melakukan redemption atau penarikan dana.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai aktiva bersih reksa dana sepanjang 3-28 Februari 2020 tercatat Rp525,27 triliun, turun 2,23 persen NAB Januari sebesar Rp537,28 triliun.

Di sisi lain, pembelian baru investasi reksa dana (subscription) tercatat sebanyak Rp47,99 triliun sedangkan nilai penarikan investasi reksa dana (redemption) mencapai Rp47,95 triliun. Walhasil terjadi aksi pembelian bersih atau net subscription senilai Rp41,91 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI reksa dana
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top