Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Emiten Royal Dividen, Saham Apa yang Paling Direkomendasikan?

Analis pun merekomendasikan saham dari emiten yang stabil dalam mencetak laba dan membagikan dividen.
Pengunjung memfoto layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Pengunjung memfoto layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Saham-saham dengan porsi dividen tinggi masih lebih menarik bagi para investor dibandingkan sejumlah instrumen investasi keuangan lainnya.

Analis pun merekomendasikan saham dari emiten yang stabil dalam mencetak laba dan membagikan dividen.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio mengatakan dengan suku bunga deposito rata-rata saat ini 5,5 persen. Yield atau imbal hasil 3 persen saja dari saham-saham pembagi dividen sudah cukup menjadi daya tarif bagi investor.

“Dapat dikatakan saham adalah instrumen yang sangat menarik bagi para investor karena dengan suku bunga deposito rata-rata saat ini, kalau investor bisa mendapatkan yield sebesar 3 persen saja sudah sangat menarik, mengingat investor di pasar modal masih berpotensi mendapatkan capital gain,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (25/2/2020).

Dia menjelaskan dari 20 emiten dalam indeks High Dividend 20, sudah ada lima emiten yang mengumumkan pembagian dividennya. Saat ini, yield paling tinggi diberikan oleh PT Indo Tambang Raya Megah Tbk., (ITMG) yakni 6,62 persen.

Namun demikian, dia mengatakan bahwa emiten perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dinilai lebih baik. Selain memberikan yield menarik, bank-bank besar ini masih memilki proyeksi kinerja yang positif.

Berdasarkan proyeksi dividen secara historis, saham PT Adaro Energy Tbk. dan PT Gudang Garam Tbk. juga menjadi favorit Frankie. Penilaian tersebut juga didasarkan pada stabilitas dua emiten ini dalam menjaga pertumbuhan laba dan membagikan dividen.

“Untuk emiten yang belum mengumumkan pembagian devidennya, saya menggunakan data histori dividend payout ratio, dengan metode konservatif. Saya cenderung menyukai perusahaan yang stabil memberikan dividen, serta mampu menjaga pertumbuhan labanya secara konsisten,” jelasnya.

Di sisi lain, saham Indo Tambang Raya dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. justru tidak direkomendasikan. Meski masih membagikan dividen dengan porsi tinggi dan memiliki yield dividen menarik, keduanya mengalami penurunan laba cukup besar.

Namun, tidak berarti emiten yang mencatatkan penurunan laba juga tidak menarik untuk dikoleksi. PT Bukit Asam Tbk. contohnya, meski mengalami diproyeksikan labanya menurun 20 persen, penurunan sahamnya yang lebih besar membuatnya memiliki yield dividen yang lebih tinggi.

Dia memproyeksikan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. dan PT Indocement Tungga Prakarsa Tbk. akan menjadi emiten dengan rasio pembayaran dividen tertinggi, masing-masing 100 persen. Adapun, PT Indah Kiat Pulp & Paper akan menjadi yang terendah dengan rasio sekitar 13 persen.

Adapun, PT Gudang Garam Tbk. dan PT United Tractors Tbk. akan menjadi emiten dengan rasio dividen per saham paling tinggi, masing-masing Rp2.600 dan Rp1.146.

Sementara itu, emiten dengan yield dividen tertinggi bakal dipegang duo bank daerah, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk.

Dihubungi terpisah, pengamat pasar modal menilai emiten dalam indeks High Dividen 20 pada tahun ini, paling tidak bakal membagikan dividen dengan porsi yang saham dengan 2020.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan bahwa hal itu akan dilakukan emiten agar saham-saham mereka tetap diminati. Hanya dalam kondisi tertentu, emiten akan menganggap menurunkan porsi dividen sebagai langkah rasional.

“Paling tidak mereka akan mempertahankan dividen rasionya, kecuali mereka punya rencana untuk buyback [saham], kalau tidak ada kenapa harus diturunkan, karena hal itu hanya akan jadi sentimen negatif buat sahamnya,” ujarnya kepada Bisnis.com, Selasa (25/2/2020).

Terlebih, dia memaparkan bahwa prospek ekonomi yang kurang menentu juga akan menambah alasan kuat untuk membagian dividen besar. Pasalnya, kebutuhan emiten untuk ekspansi diperkirakan tidak terlalu besar.

“Saya pikir sih, akan lebih menahan ya, karena banyak isu ini justru membuat mereka, berpikir untuk fokus bertahan saja dengan pendapatan, penjualan dan laba bersihnya, hal itu saja sudah bagus dalam kondisi ekonomi seperti ini,” kata Budi.

Menurutnya, emiten di sektor perbankan akan menjadi emiten dengan dividen cukup tinggi pada tahun ini. Hal itu juga sudah terlihat dari langkah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan Bank Mandiri yang telah mengumumkan besaran pembagian dividen pada tahun ini sebesar 60 persen.

Tak dapat dipungkiri, menurutnya hal ini juga didorong oleh kebutuhan pemerintah untuk menggenjot penerimaan negara. Meski begitu, menurutnya kesiapan dua bank besar itu untuk memberikan dividen besar menunjukkan solidnya kondisi fundamental mereka.

Selain perbankan, menurutnya saham operator telekomunikasi, dan konsumer juga akan membagikan dividen besar karena pertumbuhan bisnis yang cukup baik pada tahun lalu. Di sisi lain, saham-saham yang erat kaitannya dengan komoditas akan cenderung menahan dividen karena laba yang dicetak tidak cukup baik.

Sementara itu, Indeks IDX High Dividen 20 pada perdagangan Selasa (25/2/2020) ditutup melemah 0,13 poin atau 0,03 persen menjadi 471,42. Sepanjang tahun berjalan harga menurun 5,71 persen.

Namun, kinerja Indeks IDX High Dividen 20 masih masuk ke daftar 4 indeks terbaik di bawah indeks Infobank 15, indeks saham finansial (JAKFIN), dan Bisnis-27. Jadi, siapkah berburu saham emiten royal dividen?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper