Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kepastian PPh Final akan Dorong Transaksi Derivatif

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Fajar Wibhiyadi mengatakan bahwa kepastian nilai PPh final dapat mengakselerasi pertumbuhan volume transaksi derivatif yang sudah berjalan cukup baik. Kepastian nilai PPh final juga akan meningkatkan ekosistem transaksi derivatif di tanah air.
Petani memanen kopi arabika di Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/6/2019)./ANTARA-Raisan Al Farisi
Petani memanen kopi arabika di Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/6/2019)./ANTARA-Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA - Kepastian penentuan pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) final atas transaksi derivatif diyakini dapat menjadi stimulus untuk meningkatkan transaksi dan minat investor terhadap perdagangan berjangka komoditas.

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Fajar Wibhiyadi mengatakan bahwa kepastian nilai PPh final dapat mengakselerasi pertumbuhan volume transaksi derivatif yang sudah berjalan cukup baik. Kepastian nilai PPh final juga akan meningkatkan ekosistem transaksi derivatif di tanah air.

“Sejak menjadi pembahasan kembali pada 2014 belum ada kejelasan terkait PPh final. Kami optimistis dengan pemberlakuan PPh final akan menjadi stimulus luar biasa bagi perkembangan industri perdagangan berjangka komoditi,” ujar Fajar saat bincang-bincang media di Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Sebagai informasi, sejak Desember 2014 para pemangku kepentingan masih membahas ketentuan PPh final atas transaksi derivatif dengan Kementerian Keuangan agar diterapkannya PPh final dengan tarif yang lebih rendah.

Pada peraturan sebelumnya pengenaan PPh final terhadap transaksi derivatif sebesar 2,5 persen terhadap initial margin. Angka ini lebih besar dari tarif pemungutan PPh final di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai 0,1 persen.

Besaran tersebut pun dinilai kurang kompetitif sehingga membuat transaksi perdagangan berjangka komoditi menjadi lebih sedikit peminatnya. Oleh karena itu, pelaku usaha mengusulkan tarif PPh transaksi derivatif sama dengan transaksi di bursa saham.

Dengan besaran yang diusulkan tersebut diyakini akan meningkatkan selera investir untuk berinvestasi terhadap pasar perdagangan berjangka komoditi.

Kendati demikian, dia tidak menjelaskan ukuran dampak terhadap besaran transaksi jika penurunan PPh final akan terealisasi. “Potensi kenaikan itu sulit ditafsir tapi pasti naik,” jelas dia.

Sementara itu, Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta Stephanus Paulus Lumintang mengatakan bahwa penurunan PPh final dapat menangkan investor yang kerap melakukan transaksi di bursa luar negeri melalui pialang luar negeri yang tidak terdaftar di Bappebti.

“Di negara-negara lain, investor di sektor perdagangan berjangka komoditi mendapatkan insentif berupa keringanan pajak dari pemerintah, yang hasilnya transaksi menjadi lebih ramai,” ujar Paulus.

Dia juga menyebutkan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar terhadap perdagangan berjangka, terutama transaksi derivatif. Hal tersebut pun tercermin dari volume transaksi bilateral BBJ yang terus mencetak kenaikan signifikan.

Kepala Badan Pengawan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tjahya Widayanti mengatakan bahwa dengan cerminan data transaksi yang terus mencatatkan peningkatan, maka stimulus penurunan PPh final tersebut akan membuat transaksi perdagangan berjangka komoditas naik signifikan.

Setali tiga uang, potensi pendapatan negara dengan stimulus tersebut pun juga bisa bertambah dari sektor perdagangan berjangka komoditas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper