Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS-China Teken Kesepakatan Dagang, Indeks Dolar Turun

Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) terkoreksi pada perdagangan pagi ini, Kamis (16/1/2020), setelah pemerintah AS dan China menandatangani kesepakatan dagang fase pertama.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  11:18 WIB
Ilustrasi Dolar AS - Reuters
Ilustrasi Dolar AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) terkoreksi pada perdagangan pagi ini, Kamis (16/1/2020), setelah pemerintah AS dan China menandatangani kesepakatan dagang fase pertama.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, pada pukul 09.55 WIB bergerak ke level 97,213 dengan koreksi 0,016 poin atau 0,02 persen dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (15/1/2020), pergerakan indeks ditutup di level 97,229 dengan pelemahan 0,15 persen atau 0,143 poin.

Pada Rabu (15/1) waktu Washington, pemerintah AS dan China mendatangani kesepakatan dagang fase pertama. Oleh kedua belah pihak, kesepakatan ini disebut sebagai langkah maju.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan diskusi untuk kesepakatan dagang fase dua telah dimulai dan para negosiator berupaya untuk menyelesaikan segala perbedaan.

Harapan bahwa kesepakatan dagang tersebut dapat menghangatkan hubungan AS-China serta membantu menghidupkan kembali pertumbuhan global sontak mendorong penguatan mata uang di Asia yang rentan terhadap isu perdagangan sekaligus membebani laju greenback.

Nilai tukar dolar Australia dan Selandia Baru menguat, sedangkan yuan China, mata uang yang paling sensitif atas hubungan perdagangan AS-China, kembali bergerak ke level terkuatnya dalam enam bulan pada Kamis (16/1).

“Kita hidup di dunia dengan tarif lebih tinggi tahun ini ketimbang tahun lalu, tetapi berlawanan dengan hal ini adalah lenyapnya ketidakpastian,” ujar Ray Attrill, kepala strategi valas di National Australia Bank.

"Jika Anda berpikir bahwa situasi perdagangan tidak akan menjadi hambatan yang lebih besar daripada selama beberapa tahun terakhir, maka itu adalah interpretasi optimisme dari prospek [situasi perdagangan],” tambahnya.

Inti dari kesepakatan ini adalah janji oleh China untuk membeli setidaknya produk-produk pertanian tambahan AS senilai US$200 miliar dan barang dan jasa lainnya selama dua tahun.

Di sisi lain, AS juga akan memangkas separuh dari tarif yang diberlakukan pada 1 September terhadap daftar barang senilai US$120 miliar asal China, menjadi 7,5 persen.

Namun, perjanjian tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan tarif sehingga tidak membuat kemajuan nyata atas sejumlah masalah pelik. Karenanya, banyak analis merasa skeptis bahwa target pembelian itu realistis.

Posisi indeks dolar AS
TanggalPosisi
16/1/2020

(Pk. 09.55 WIB)

97,213

(-0,02 persen)

15/1/2020

 

97,229

(-0,15 persen)

14/1/2020

 

97,372

(+0,03 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as perang dagang AS vs China
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top