Rupiah Tambah Stamina Gilas Dolar AS

Nilai tukar rupiah terus memperlihatkan keperkasaannya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Selasa (14/1/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  08:44 WIB
Rupiah Tambah Stamina Gilas Dolar AS
Petugas memindahkan uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus memperlihatkan keperkasaannya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Selasa (14/1/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka terapresiasi 18 poin atau 0,13 persen di level Rp13.655 per dolar AS.

Penguatannya kemudian bertambah menjadi 23 poin atau 0,17 persen ke level Rp13.650 pada pukul 08.04 WIB dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (13/1/2020), rupiah mampu berakhir menguat tajam 99 poin atau 0,72 persen di level Rp13.673 per dolar AS, level penutupan terkuatnya sejak Februari 2018.

Dilansir dari Bloomberg, penguatan nilai tukar rupiah ke level terkuatnya dalam hampir dua tahun didorong investasi yang dilakukan Uni Emirat Arab dan pernyataan Bank Indonesia (BI) akan membiarkan rupiah untuk terapresiasi.

“Komentar Bank Indonesia mendorong lebih banyak penguatan dalam rupiah, sedangkan berita tentang investasi yang diperoleh dari UEA menambah sentimen positif,” ujar Mitul Kotecha, ahli strategi EM di TD Securities, Singapura.

“Latar belakang risiko yang lebih konstruktif juga membantu instrumen ber-yield tinggi termasuk rupiah,” tambahnya.

Sementara itu, Wisnu Varathan, kepala ekonomi dan strategi di Mizuho Bank, berpendapat penguatan mata uang Asia pada umumnya didorong optimisme pasar terkait optimisme penandatanganan kesepakatan dagang AS-China pada pekan ini.

“Kelegaan atas terhindarnya perang dengan Iran pekan lalu serta kombinasi de-eskalasi geopolitik dan klimaks penandatanganan fase satu mendorong permintaan untuk aset berisiko," ujar tutur Varathan.

Di sisi lain, Bank Indonesia mengatakan bahwa penguatan nilai tukar rupiah sepanjang dua pekan pertama Januari 2020 merupakan imbas meningkatnya cadangan devisa Desember 2019 sebesar US$129,2 miliar.

Menurut Perry, penguatan nilai tukar rupiah juga mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia dimana perkiraan pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi.

"Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan 5,1 persen -5,5 persen. Fundamental itu inflasi yang tadi itu rendah, terjaga dan kisaran sasaran 3 persen sampai 4 persen," jelas Perry di Kompleks Bank Indonesia, Jumat (10/1/2020).

Beberapa komponen fundamental lain kata Perry adalah stabilitas eksternal yang terjaga. Hal ini dalam artian, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) terjaga pada kisaran 2,3 persen-3 persen dari PDB.

"Dan kondisi fundamental apa lagi yang lebih bagus, itu terkait dengan cadangan devisa yang tinggi mencerminkan stabilitas eksternal," papar Perry.

Selain itu, penguatan rupiah juga konsisten dengan berlangsungnya mekanisme pasar yang secara baik. Tercermin sisi pasokan dari valuta asing yang lebih tinggi dari sisi permintaan.

Bersama rupiah, mata uang lainnya di Asia mayoritas ikut menguat Selasa pagi ini terhadap dolar AS, dipimpin won Korea Selatan yang terapresiasi 0,33 persen pada pukul 08.05 WIB.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, tampak naik tipis 0,02 persen atau 0,024 poin ke level 97,369 pukul 07.55 WIB, setelah berakhir terkoreksi hanya 0,01 persen atau 0,011 poin ke posisi 97,345 pada Senin (13/1/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, dolar as

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top